Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Hope is the most exciting thing in life and if you honestly believe that love is out there, it will come. And even if it doesn't come straight away there is still that chance all through your life that it will.” -Josh Hartnett-

Saturday, 18 August 2007

Jadi Maba? Hm…

Kemaren malam sewaktu aku lagi mengetik di laptop, tiba-tiba datang seorang gadis yang masuk begitu saja kekamarku. Dia adalah seorang MaBa (Mahasiswa Baru.red) UI 2007 yang sudah terlebih dahulu aku kenal sebelum gadis tersebut lulus SPMB di UI.

Ulip pun bertanya: “Kenapa dek?”

Dia : ”Lho, kakak gak baca smsku ya? Aku mau curhat.”

Sebenarnya aku agak aneh melihat dia yang menyelonong masuk ke kamarku dengan ekspresi dan tindakan seperti itu.

Setelah hampir seminggu berada kembali di Depok, aku telah mengenal cukup banyak penghuni baru asrama ini yang sebagian besar merupakan MaBA UI 2007. Sejujurnya aku masih merasa agak janggal dengan sebagian besar tingkah laku mereka yang aneh-aneh. Ada yang sok SKSD, ada yang kelewat ramah, ada yang nongkrong terus di kantin dengan tujuan yang tidak jelas, dan ada juga yang cuek berlebih.

Setelah aku renungkan dengan membandingkan dengan diriku setahun lalu, aku merasa sebaiknya lebih bisa memaklumi semuanya itu. Pasalnya para MaBa tersebut yang kebanyakan adalah anak daerah harus dapat menyesuaikan diri untuk bertahan di kondisi yang baru. Kondisi yang mungkin berbeda sekali dengan yang selama ini mereka jalani. Mahluk-mahluk dengan berbagai pribadi, karakter, kebiasan dan asuhan yagn berbeda dari dasarnya berkumpul menjadi satu di tempat ini untuk menjalani kehidupan yang baru yang secara garis besar nantinya sama. Kekampus, ikut organisasi, magang, bersosialisasi, dan melihat lebih jelas kehidupan yang lebih real.

Dalam kondisi seperti itu, tidak aneh kalau ada orang yang merasa tertekan. Seharusnya kita yang lebih dulu pernah mengalami masa-masu seperti itu lebih dapat memakluminya. Mungkin dengan hanya mendengarkan curhat, dapat membantunya merasa lebih tenang. Memang banyak orang butuh pendengar yang baik di saat susah.

Saturday, August 18, 2007 11:11 A.M.

Friday, 17 August 2007

Do you care for me?

Sebagai mahluk sosial yang juga homo homuni lupus, manusia memang perlu di perhatikan. Semua orang juga ingin diperhatikan. Tidak terkecuali diriku. Dan sebagai balasannya kita perlu juga memperhatikan orang lain. Kepedulian itu harus dilakukan dengan tulus dari hati. Tidak baik bila terlalu cuek terhadap kondisi sekitar.

Waktu aku kembali ke Depok, aku senang sekali ketika teman-temanku meyambutku dengan gembira. Mereka memelukku dan mengajakku bercerita tentang pengalamanku. Aku jadi merasa berarti. Ketika aku datang ke kampus, teman-teman yang lain menyapaku dengan ramah. Semuanya berseru “Uliph, udah pulang ya? Kapan?” , kemudian aku membalas “Iya, semalam.” Aku jadi merasa senang karena semua itu.

Namun aku masih merasa agak berat berada disini. Aku masih ingin berlama-lama di kampung halaman. Selama beberapa hari ini tampaknya aku masih harus menyesuaikan diri dengan keadaan disini. Sejujurnya disini tidak terlalu buruk. Hanya saja aku sedang malas berusaha. Memang kadang manusia menghadapi fase seperti itu. Moody ya.

Keep fighting gurl!

Thursday, August 16, 2007 09:38 A.M.

Can I live without U (Music)

Aku terdiam menerawang dan membayang sembari tetap mendengarkan alunan musik yang mengalir masuk ketelingga kananku, pikiranku terus menerwang. Pengamen yang dipojokan terus mengemandangkan lagu jitunya. Lagu baru yang jadi kesukaan banyak orang. Tak terkecuali aku. Disisi lain aku liat teman-temanku membicarakan hal-hal kecil disekitar yang dialami bersama. Hal yang indah kalau dipikir-pikir lagi. Disudut lain aku lihat temanku yang lain, aku melihat ekspresi bosannya dan sepertinya temanku yang lain mengerti dan aku tersenyum dengan kasih kebaikannya. Di seberang aku lihat wanita baik-baik… kelihatannya iya. Iya, begitulah pikiranku sampai ia mengeluarkan gulungan tembakau dari sekotak yang ditempatkan disisi kirnya. Ia wanita rupawan dan temannya disebelah dengan memakai ‘tutup kepala’. Fenoma hidup pikirku masih ditemani dengan lagu lambat dari suara loudspeaker handphone yang aku jejalkan dengan tangan kananku kearah telingaku. Semuanya bergetar, jiwaku dadaku pikiranku.

Aku kembali berhayal dan berpikir, membayangkan banyak hal. Kupejamkan mataku dan mata hatiku pun terbuka. Selama ini aku hanya berada dalam kandangku saja. Begitu aku keluar, aku teingat akan banyak hal lain yang lebih banyak dari yang selama ini ada.

Bagaimana kalau aku jadi tuli? Apa jadinya kalau aku tidak bisa mendengar? Itu hal yang terutama ku dasarkan dalam anganku saat itu. Bagimana rasanya tidak bisa mendengarkan hentakan dan getaran yang bahkan bisa ikut mengerakkan hatiku. Jiwaku bergelorak dan moodku bergeser. Hanya dengan untaian nada dari suara-suara ala surgawi. Karunia sang tercipta. Musik adalah haris yang luar biasa. Salah satu hal termanis yang dihadiahkan Bapa pada manusia. Padaku. Aku suka.. suka banget akan kurnia mu yang satu ini. Pada penutup, aku memutuskan untuk terjun dan tenggelam kedalam indahnya rajutan melodi-melodi keagungan untuk Mu. Hm….

14/07/2007 5:50 P.M.

Telur Ajaib

Akhirnya aku memakan juga telur tersebut. Iyup, telur ajaib yang katanya bisa mempertemukan kita dengan sang jodoh.

Hum.. jadi ceritanya begini. Hari sabtu lalu begitu nyampai di Medan, Mom ngajakin ke kondangan sodara. Cape juga sih, pasalnya aku kan baru nyampe berapa jam di Medan. Dengan pertimbangan aku jarang ikut acara ginian, akhirnya aku putuskan ikut. Begitu nyampai rumah, aku langsung di suruh mandi, ganti baju dan langsung berangkat. Ngomong-ngomong soal baju. Sebelumnya Mom memilihkan baju babydoll biru plus kemben biru muda padaku. Aku sebenarnya agak kurang begitu nyaman dengan pilihan tersebut. Soalnya rok babydollnya terlalu pendek. Tapi karena Mom bilang biar aja. Ya sudah la aku pakai.

Setelah nyampai di TKP, aku pun tersadar. Aku saltum! Ya ampun, kondangannya itu kan diadakan di depan rumah. Dan parahnya lagi, jalanannya kesana itu tanah, bukan aspal. Posisinya agak jauh dari jalanan raya. Orang-orang disana juga pakai baju yang tertutup. Aku benar-benar saltum. Apalagi aku pakai dandanan menor segala. Aduh, benar-benar deh.

Selama disana, rasanya risih banget. Pasalnya kan aku bukan cewek girly yang bisa bergaya feminin ria. Rok itu membuat gak nyaman. Sumpah, aku gak bisa beranjak dari tempat dudukku. Kalau pun aku jalan, rasanya berpuluh-puluh pasang mata disitu pada melototiku. Aku harus gimana? Akhirnya aku diam membisu sambil berusaha menahan kakiku yang hampir kram karena disilang terlalu lama.

Waktu makan, tiba-tiba ada bibikku yang bilang gini: “Lip, kau udah besar kan? Biar aku ambil dulu telurnya itu.”

Uliph yang bingung bertanya: “Telur apa Bik?”

Bibikku menjelaskan : “Telur ajaib yang jadi hiasan-hiasan disitu. Katanya kalau makan itu bisa cepat ketemu jodoh. Yang kuning untuk cewek terus yang hijau untuk cowok. Tapi yang hijau udah habis. Tunggu ya biar aku ambil.”

Hah? Yang ijo udah abies? Emang cowok-cowok sekitaran sini pada gak laku ya?

Kemudian bibik pun membawakan padaku sebutir telur lengkap dengan rangkain kembangnya. Jadi maksudnya disini, warna-warna itu ada pada hiasan-hiasan di seliling telur itu. Terdiri dari batang-batang bambu plus kawat-kawat yang diselimuti pita dan hiasan lainnya berwana kuning. Sehingga keseluruhannya seperti membentuk tangkai bunga dan didalamnya lah telur tersebut berada.

Aku memain-mainkan telur lucu tersebut. Aku memotonya dan sesampainya rumah aku masukkan ke dalam kulkas. Aku lupa memakan telur itu sampai hampir tiga hari. Setelah tiga hari bertengger di dalam kulkas (emang telur ayam bisa bertengger), akhirnya dengan agak terbeban aku memakannya. Sewaktu aku memakan telur tersebut, aku berguman dalam hati “Gak apa-apa, demi jodoh, demi jodoh...”

Akhirnya telur tersebut telur tersebut telah musnah tertelan, namun tangkai hiasannya masih kusimpan di kamarku. Kalau kulitnya sih udah dibuang. Tapi kok jodohku gak ketemu-ketemu juga ya? Aku akan bersabar menunggu khasiatnya. We’ll see lah.

Wednesday, August 08, 2007 6:04

Sepupuku dan Rumahnya

Ini adalah cerita tentang sepupuku dan rumahnya yang memberi makna sendiri dalam hidupku. Ceritanya begini, aku punya dua orang sepupu cowok yang (waktu kecil) dekat sekali denganku. Mamanya mereka (bibikku) adalah saudara perempuan Momku yang paling dekat dengan Momku. Aku ingat kejadian waktu pertama kalinya aku diajak ke rumah mereka. Waktu itu aku masih kecil, mungkin masih TK. Aku dan Mamaku berdua naik becak ke rumah mereka yang letaknya agak di pinggiran kota Medan. Waktu dibelokan, aku lihat ada orang yang main bulu tangkis di lapangan sebelah rumah mereka. Sampai sekarang pun mereka belum pindah dari rumah itu. Sebetulnya belum banyak yang berubah dari rumah itu. Strukturnya masih sama. Perabotannya masih ada yang sama. Akuariumnya masih sama. Pohon rambutan yang didepan rumahnya pun masih tetap tumbuh. Mungkin hanya ada bagian di rumahnya yang di poles dan dipermak plus prabot-prabotnya juga semakin lengkap. Lapangan bulu tangkis yang dulunya punya tetangga sebelah -yang jualan kelontong itu- kini bersatu dengan rumah sepupuku. Lapangan itu telah dibuatnya jadi kandang ayam serta ditanam berbagai macam pohon seperti rambutan, mangga, kelapa dll. Si Pindy, kucing kecil peliharaan mereka telah lama sekali hilang. Pindy adalah nama kucing yang diambil dari nama permen tangkai aneka rasa bergambar kucing. Hm.. begitu banyak kenangan dirumah itu. Banyak, banyak sekali kenangan manisku.

Abangku dekat dengan kedua sepupuku ini meskipun mereka berdua umurnya lebih tua dari abangku. Diriku kecil sering di tinggalkan orangtuaku di rumah itu sambil bermain dengan para abang-abang. Aku senang sekali dengan rumah itu. Rumahnya tenang sebab terletak agak jauh dari jalanan. Aku belajar banyak hal disitu bersama ‘para abang’. Aku pertama kali bisa bersiul karena diajarin (diledekin) mereka. Aku pertama kali bisa membuat balon dari permen karet karena diajarin (diledekin) mereka. Aku pertama kali mencicipi buah rambutan (yang sekarang menjadi buah kesukaanku) bersama mereka disitu. Aku pertama kali tahu (bisa) main kartu (Domino dan Joker) karena di ajarin mereka. Aku masih ingat setiap malam hari sabtu dan minggu kami berempat (aku, abangku dan dua sepupuku) main kartu bareng. Kami datang kerumahnya hampir tiap minggu. Aku bakal sedih bila bubaran main kartu di malam hari minggu. karena aku harus kembali keBrastagi untuk sekolah besok paginya.

Cukup sering juga kami berpetualang di sekitar situ. Bermain keliling, aku rasanya seperti masuk ke dunia petulangan. Aku sering di bonceng naik sepeda kemudian mengitari sekitaran situ. Ilalang-ilalang yang tumbuh disitu lebih tinggi dari pada aku. Air sungai disitu masih bersih dan dingin. Kedua sepupuku ini sering mengajak aku ke rumah tetangga-tetangganya. Aku juga di kenalin sama teman-temannya. Aku diajak ke supermarket di dekat rumahnya. Kami bermain dengan ikan laganya. Aku bahkan sempat mandi bareng di pompaan bareng mereka. Aduh serunya.

Aku ingat, kami semuanya kalau minggu pagi gak pernah ibadah. Kami malah asyik nonton kartun. Semuanya suka kartun (disini anime digolonglkan juga ke kartun). Kartun utama kesukaan kami adalah Sailor Moon. Masing-masing punya favorit. Aku suka Usagi si Sailor Moon yang cengeng. Abangku suka Minako si Sailor Venus. Salah satu sepupuku suka Mei si Sailor Merkurius dan sepupuku yang abangan suka Makoto si Sailor Jupiter. Kami mengoleksi poster dan segala stiker terkait tokoh-tokoh Sailor Moon. Ketiga abangku ini pintar main game. Semuanya selalu main PS (playstation.red) bersama. Aku selalu saja kalah main PS melawan mereka. Itu sebabnya aku lebih suka melihat mereka main PS yang adventure dari pada main bersama mereka, apalagi yang battle. Soalnya aku gak hapal jurus-jurusnya (aturan mijit joy stick).

Kami juga punya kesamaan lain. Kami sama-sama langganan tabloid Bobo dan Donald Bebek. Sebelumnya kami gak langganan. Hanya setelah melihat mereka aja Mom dan Dad akhirnya memutuskan untuk berlangganan juga. Terus waktu abangku beralih ke tabloid Fantasi, dengan alasan lebih banyak info gamenya, maka mereka pun beralih ke tabloit itu juga.

Momen Natalan dan Tahun Baru bersama mereka adalah salah satu momen yang paling kusenangi selama hidupku. Di saat Natalan dan Tahun Baru, mereka selalu di kasih Bonus uang saku sama orang tua mereka. Sementara Mom dan Dad ku punya tradisi lain. Jadi aku kadang iri melihat uang saku mereka yang banyak yang lantas di tabung. Pernah waktu natalan dan tahun baru, kami keluar ke teras yang peuh dengan rumput beramai-ramai sambil memasang bantalan kursi sebagai alas duduk. Sambil di terangi oleh sinar rembulan dan cahaya lilin, kami pun bercerita. Mulai dari cerita biasa hingga cerita hantu. Aku suka sekali berada di luar malam-malam. Apalagi suasananya seperti itu. Kadang mereka mengajak kami (aku dan abangku) ke rumah tetangganya untuk kunjungan tahun baru. Kami juga sering rombongan dengan orang tua kami mengunjungi sanak-saudara masih dalam rangka ngerayain tahun baru. Kami bermain, tertawa dan makan sampai kenyang. Aku gak bisa lupakan itu.

Tapi sekarang sudah berbeda, sudah berubah. Aku juga gak tahu kapan kejadiannya serta kapan pastinya kami mulai menjauh. Seingatku sewaktu adekku mulai tumbuh jadi adik yang imut, aku sadar posisiku mulai di geser oleh adikku. Mereka merasa senang berada di dekat adekku. Di main-mainin sama adekku. Sementara aku mulai merasa agak risih bermain dengan mereka. Mungkin karena mereka mulai tumbuh dewasa dan begitu juga aku. Aku telah sibuk dengan duniaku dan mereka juga. Ditambah semenjak orang tuaku membeli rumah di Medan, kami sekeluarga pun semakin jarang datang kerumahnya. Perlahan aku mulai canggung ngobrol dengan mereka dan mereka tampaknya juga begitu. Obrolan kami pun tidak nyambung lagi. Aku maupun mereka sama-sama tidak suka Sailor Moon lagi, tidak suka Donald Bebek lagi dan arti petualangan bagi kami sudah berbeda. Ada jurang di antara dunia kami. Aku sekarang sudah kuliah, mereka pun sudah cukup dewasa. Aku bahkan pikir mereka suatu saat akan menghilang dariku. Tapi tetap di hatiku, mereka adalah pribadi yang cukup berarti.

Wednesday, August 08, 2007 3:59 P.M.

Dad is The Best

Note:Ini adalah kisah (tragedi) yang terjadi sewaktu penulis duduk di kelas tiga SMU

Cerita ini diawali dari kehebohan untuk masuk PTN (Perguruan Tinggi Negeri.red) favorit. Aku juga tidak lepas dari euforia itu. Sebagai anak kelas tiga SMU memang hal yang paling seru di bicarakan adalah nasib atau masa depan setelah tamat sekolah. Kebanyakan teman-teman memilih ingin masuk PTN lewat jalur SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru.red) dan UM (Ujian masuk.red). PTN yang paling duluan membuka jalur UN adalah UGM (Universitas Gadjah Mada.red). UGM bahkan melaksanakanUM nya sebelum UAN (Ujian Akhir Nasional.red) yakni sekitar bulan empat. Ada berbagai tempat strategis yang dijadikan tempat untuk ujian. Salah satu yang paling dekat dengan Medan adalah kota Pekan Baru. Kebanyakan teman-temanku yang ingin mengikuti ujian ini memilih untuk ujian di Pekan Baru. Karena banyak pertimbangan, akhirnya aku meemilih untuk ujian di Yogyakarta. Ehm.. maksudnya sekalian jalan ke Jawa juga sih.

Semua di persiapkan secara matang. Persiapan fisik, OK. Persiapan mental, OK. Persiapan yang lain-lain, OK semua. Hari-H ujian semakin dekat saja. Tapi semangatku tidak terkalahkan. Akhirnya tibalah dua haru sebelum hari keberangkatan ke Yogya. Ada suatu keadaan dimana aku juga tidak ingat kronologisnya sebabnya apa yang mengharuskan Dad datang ke sekolah waktu itu. Setahuku untuk mengantarkan tiket pesawat.

Sebelumnya aku ingin menceritakan sekilas history of my Dad. Dad itu orang yang tidak pernah datang dan berurusan dengan sekolahku. Iya mungkin pernah waktu ngurus pendaftaranku ke sekolah itu. Dad mungkin kerap datang ke sekolah adekku untuk mengambil rapot. Tapi tidak sekolahku, karena anank SMU memang berbeda dengan anak SD.

Inti ceritanya, setelah aku mengirim pesan ke Dad, akhirnya ia datang ke sekolahku. Waktu itu karena tidak tahu ruang kelasku, beliau bertanya ke Pak Satpam

Dad : “Pak, ruang kelas 3-5 yang mana ya?”

Kemudian Pak Satpamnya jawab: “Itu pak yang lantai tiga, sebelahatas, paling sudut..bla..bla..bla...”

Dad : “Ok, Ok, Makasih ya Pak.”

Terus Dad langsung menejang melewati lapangan, melewati tangga, naik dan tiba didepan kelasku. Dad mengintip sejenak kemudian ia mengetuk dan langsung membuka pintu. Waktu itu aku sedang ada les mata pelaran Biologi.

Dad: “Permisi Pak, Mau cari anak saya Olivia.”

Guru Biologi: “Olivia…”

Aku ngobrol sebentar dengan Dad. Setelah Dad keluar dari ruangan itu, tiba-tiba Guru Biologi ku ini menyusul Dad dan mereka berbicara. Aku tidak tahu isi pembicaraannya itu.

Keesokan harinya ketika aku datang ke sekolah, aku melihat suatu tulisan besar diatas sebuah papan tripleks terpampang di meja piket guru. Isinya kalau tidak salah begini “Bagi yang tidak berkepentingan dilarang masuk” atau “Tamu Harap Lapor Piket”. Aku ya santai-santai saja. Waktu itu aku yang agak plin-plan tidak sadar bahwa tulisan itu -walaupun tidak ditujukan secara langsung padaku- di karenakan olehku dan Dad.

Ternyata masalah Dad yang langsung menerobos masuk itu menjadi isu yang diangkat besar oleh Sang Guru Biologi. Ternyata ia merasa tersinggung bila orangtua langsung masuk ke kelas pada saat proses belajar mengajar di kelas sedang berlangsung. Memang prosedurnya bila orangtua ingin bertemu dengan murid, beliau harus menunggu dahulu di ruang piket. Setelah itu muridnya dipanggil dan bertemu orangtuanya di ruangan tersebut. Masalahnya Dad kan tidak tahu menahu soal prosedur itu. Selama ini bila mau menjenguk adekku kesekolah, ia biasanya langsung menuju kelas saja. Gak harus nunggu di piket segala. Kemudian seisi kelasku heboh mengenai kejadian ini.

Bagiku ini mungkin memang bukan pengalaman mengenakkan. Tapi aku tidak akan menyalahkan Dad dalam hal ini. Beliau sudah berusaha berperilaku sopan pada orang-orang di sekolah. Hanya saja ada miss comunication disini. Memang benar bahwa prosedur SD dan SMU itu berbeda. Akan tetapi Dad tidak tahu menahu soal hal tersebut. Dad selalu berusaha berbuat apa yang terbaik untukku. Aku pun akan membela Dad walau seperti apapun yang dikatakan orang padanya. Aku tahu bagi Dad juga aku yang terbaik dan telah kubuktiakan sebagian. Akhirnya aku lulus juga UM-UGM nya. Thanks Dad. Thanks Lord.

Wednesday, August 08, 2007 5:42 P.M.

Medan @ Watching Room

Proper or Not

Aku pernah menyukai seseorang hingga setiap apapun yang aku kerjaan dan lakukan sambil mengingat dia. Aku pikir itu saat dimana perasaan kita mulai mendalam. Barusan aku bertemu dengan sesorang itu. Dari kemaren memang aku sudah janjian dengannya. Tapi entah kenapa baru tadi bisa ketemu. Mendadak sehari sebelum dia pulang.

Tadi siang waktu aku lagi berpikir untuk menghubungi dia, eh tiba-tiba dia ngirim pesan duluan. Dia bilang : “Liph, pergi yuk. Sekarang.” Kira-kira seperti itu bunyinya. Aku pun langsung ngirim pesan ke adekku bilang kalau aku mau jemput dia. Soalnya aku pikir kalau cuma ketemu berdua sama dia, malas aja. Sesungguhnya aku gak punya perasaan lagi sama dia semenjak pindah dari Medan. Tapi entah kenapa waktu aku nunggu dia lama, aku merasa agak deg-degan. Nantinya, waktu kami jalan aku masih agak kagok juga. Karena dia lama tiba ditempat yang sudah dijanjikan, aku ngririm pesan ke dia. Terus dia balas “Tunggu ya? Kami lagi dijalan.” Kami? Aku pikir dia pergi sendiri kesitu.

Setelah sekian lama nunggu, akhirnya dia memunculkan diri juga. Waktu jalan melewati food court tiba-tiba adekku bilang “Ih, banyak kali pun yang liatin si itu.” , sambil menunjuk ke arah dia. “Siapa?” ,kutanya memastikan. “Itu, si Mr. X.” jawab adikku.

Oo.. kalau di pikir-pikir memang betul juga. Banyak memang yang perhatikan dia. Sejujurnya dia memang makin cakep. Apalagi dengan style barunya yang gaya kuliahan. Waktu makan, kami ketemu seorang teman lama kami. Terus temen kami ini tanya gini, “Lip, udah ada pacarmu disana?”. Duh.. pertanyaan menjebak neh. Aku bingung. Tapi entah kenapa aku jadi jawab “Gak tahu lah.” Harusnya aku bilang aja “Enggak! Ga ada.” Itu lebih simple dari pada pernyataan lainnya. Soalnya terlalu norak juga kan kalau aku bilang “Dulu aku pernah suka sama orang beberapa kali, tapi gak jadi.” atau “Ada yang naksir aku, tapi aku rasa dia kurang cocok.” Tapi aku udah terlanjur jawab itu, mau apa lagi. Reaksinya si seseorang itu pun biasa aja dengan jawaban ku itu. Aku sengaja ngasih kesan ‘gantung’, gak jelas gitu antara iya atau tidak. Supaya aku tahu gimana tanggapan dia. Ternyata dia biasa aja.

Setelah ngobrol panjang lebar plus makan. Akhirnya kami jalan pulang. Aku dan adikku berjalan dibelakang dia. Kemudian aku bertanya lagi pada adekku ,

Uliph: “Iya ya dek, banyak yang liatin dia ya? Coba kita buktikan.”

Adikku jawab: “Iya, tadi aja pelayannya sampai ngeliatain gini.”

Adekku kemudian mempraktekkan gaya orang yang ngeliatin terus tanpa berkedip. Waktu aku perhatikan, emang benar kalau banyak yang perhatikan dia. Kalau diingat-ingat lagi, dari SMU memang udah banyak sih yang ‘gitu’ ama dia. Jadi sebetulnya gak perlu diherankan kan?

Pada akhirnya kami berpisah. Aku pergi ke arah toko buku dan dia kesana. Aku yang masih memikirkan kejadian tadi bertanya lagi sama adekku,

Uliph: “Dek, emang dia ganteng ya?”

Terus adekku jawab: “Iya, dia kan cakep. Charming. Dia juga karena tahu diliatin orang tadi makin bergaya PD.”

Uliph: “Hm.. gak cocok banget samaku ya? Aku kan biasa-biasa aja. Gak ada yang liatin.”

Adekku jawab : “Ah, enggak kok lip. Kau kan manis.”

Uliph: “Tapi ada gak yang liatin aku kan?”

Adekku lagi : “Ada kok. Tadi aja banyak yang memperhatikan kau. Cumannya kau aja yang gak tau.”

Uliph: “Iya ya? Siapa?”

Adekku : “Iya, satpam, pegawainya, tukang bersih-bersih.”

Uliph: “Yah… Ela, serius lah.”

Adekku : Enggak la. Bukan mereka itu pun ada kok yang liatin kau.

Uliph: “…” (diam seribu bahasa dan merenung)

Kenapa aku ini jadi gak memiliki self confidence yang tinggi ya?Aku mengerti perasaan yang aku rasakan sekarang ini. Kala aku lagi merasa down dan perlu teman bicara, aku perlu orang yang bisa encourage. Thanks Lord that I still have my sister beside me. Aku jadi ingat perasaanku dulu dan aslasan kenapa aku butuh dan sayang kedua sahabatku itu. Aku memang butuh orang mendengarkan cerita, keluhan serta rasa sedihku. Teman untukku bercerita.

Setelah masuk ke toko buku. Aku kembali ke dunia yang aku sukai. Dunia baca-tulis. Aku pikir aku memang harus kembali ke jalanku lagi, walau aku masih tetap merenungkan pertemuan tadi. Waktu dimobil dalam perjalanan ke rumah, aku kembali bertanya sama Ela.

Uliph: “Dek, menurutmu gimana percakapan kami tadi. Lucu ya?”

Adekku: “Enggak, bukan kocak tapi kau yang konyol.”

Hening…

Uliph: “Dek, menurutmu mereka menggangap aku apa ya?”

Adekku: “Aku rasa orang itu menganggapmu bukan cuma teman biasa, tapi teman baik.”

Hm… hidup memang selalu berubah. Pertemuan tadi sesungguhnya tidak memberikanku kesan mendalam. Ada sesuatu didirinya yang membuatku merasa yakin bahwa dia tak ubahnya dengan cowok-cowok kebanyakan.

Aku rasa, aku benar-benar gak menyukaimu lagi. Sekarang ini aku sungguh tidak begitu lagi peduli akan apa yang terkait dengamu. Yup, masih banyak yang menunggu di luar. Aku yakin pasti ada sesuatu yang luar biasa yang menggantikan keberadaanmu dulu.

Tuesday, August 07, 2007 7:34 P.M.

TEH

Masih ingat gak waktu kecil kita sering menulis biodata kita di diary teman-teman sekelas? Aku masih bisa mengingat dengan jelas pengalaman soal menulis biodata di diary ataupun notes teman sekelas di SD. Dalam salah satu isian keterangan biodatanya ada tentang Makes (Makananan kesukaan) dan Mikes (Minuman kesukaan). Kalau dipikir-pikir lagi, waktu itu aku sesungguhnya kurang begitu tahu ataupun yakin apa makanan kesukaanku yang sebenarnya. Jadi aku kerap mengisi asal-asalan dan berbeda-beda dari diary teman yang satu dan lainnya. Tapi kalau soal Mikes berbeda. Dari dulu sampai sekarang, aku tetap suka minum teh. Mungkin waktu kecil aku nulisnya di diary Teh Manis Dingin ya? Tapi kalau sekarang aku sukanya Teh Manis biasa aja. Soalnya beranjak dewasa aku jadi semakin mengerti diriku yang alergi minum es dan air dingin.

Bagiku rasa teh itu memang mengalahkan semua minuman lain kayak juice-juice-an atau minuman soda. Hampir setiap hari aku minum teh . Frekuensi minum teh ku menyaingi frekwensi minum susu. Teh itu harum dan rasanya uniq.Terutama aku paling suka teh aroma melati. Tapi aku juga suka teh aroma lainnya. Di asrama aku koleksi macam-macam teh. Mulai dari teh melati, teh hijau, teh hitam, teh jeruk nipis, teh madu, teh jahe, teh vanila, teh aroma anggur, hingga teh aroma anggur. Teh–teh tersebut tentunya dengan berbagai merek. Sekarang saja aku lagi makan permen rasa es teh. Sepertinya aku gak pengen selesai menguyah permen asyik ini.

Mungkin aku bakal suka jika sewaktu ulang tahun di berikan parcel berisi teh-teh dengan berbagai macam rasa dan aroma. Jadi teman-temanku, sekarang gak perlu bingung lagi kan beli hadiah ultah untukku? (masih tiga bulan lagi kok). Atau bagusnya aku buka kebun teh aja ya? Hehehe ^^

Thursday, August 16, 2007 10:05 A.M.

Thursday, 9 August 2007

Karangan Akhir Sekolahku yang Aneh

Berdagang / Pedagang.

Didekat sekolahku ada seorang laki-laki yang menjajakan makanannya dengan memakai gerobak sorong berwarna biru agak kemudaan.

Makanan yang dijajakannya, makanan biasa, jajanan pasar yakni: telur yang di goreng dan diberi saus sebagai penyedap. Tapi terkadang aku melihatnya juga menjual minuman berwarna-warni. Kemungkin besar itu sirop. Aku sendiri belum pernah membeli makanan ataupun minumannya.

Tampak si penjaja makanan keliling ini mirip Ariel Peterpan. Kalau saja dia lebih putih sedikit, juga lebih tinggi sedikit dan gak telalu tirus. Aku suka sekali melihatnya, melihat kulitnya yang coklat mengkilap diterpa matahari, menyiratkan usahanya dan jerih payahnya mencari uang. Juga melihat betisnya yang berotot, membuktikan bahwa dia sering melakukan aktifitas fisik.

Lumayan banyak yang membeli makanannya, tapi aku lebih sering melihatnya dikerumuni anak-anak SMP sekolahku. Mungkin jajanannya lagi populer dikalangan anak SMP.

Kadang-kadang aQ dan temanku bernyanyi lagu-lagu Peterpan sewaktu melewati tempat jualannya nongkrong. Kadang-kadang ada beberapa orang yang hendak membeli makanannya melirik kami. Tapi kadang juga dicuekin.

Tapi hari ini beda, walaupun hari ini kami juga menyayikan “Tak Bisakah,” salah satu hits peterpan yang sedang populer, tapi si Ariel tidak muncul hari ini.

Orang lain yang ada di belakang tenda biru itu, yang sibuk melayani para pelanggan tertegun.

aQ hendak memikirkannya. Mungkin yang sedang berjualan menggantikannya itu sepupunya atau adik atau saudara istrinya. Dia dan istrinya yang kadang muncul tak ada hari ini. Istrinya mungkin sedang mengandung.

Ah, gak taulah. Yang aQ tau, aQ suka kehidupan orang susah yang berusaha demi hidup… =)

uliphZzz

070206

I’m my self!

Note: Tulisan ini aku buat sewaktu masih duduk di kelas tiga SMU.

Saturday, 4 August 2007

Short Memory Term Disorder

Tadi rencananya aku mau ikut dua kelas bahasa: bahasa Prancis dan bahasa Jepang. Tapi sekarang takutnya satupun aku gak bisa ikuti. Masalahnya aku susah banget mengingat istilah-istilah asing atau kata-kata baru. Bukan cuma istilah saja, nama orang pun aku susah ngingatnya. Jangan harap aku bakal ingat nama seseorang kalau ia baru pertama kali berkenalan denganku. Apalagi kalau namanya itu uniQue. Takutnya hal ini bisa mengganggu banyak kegiatanku. Terutama studiku. Tahu kan kalau lagi berdebat, presentasi atau diskusi kita pasti banyak menggunakan berbagai macam istilah-istilah. Supaya kesannya ilmiah gitu. Aku takut jangan-jangan aku terkena Alzheimer. Hal itu mungkin-mungkin saja kan? Setahuku Alzheimer itu dapat diderita seseorang diusia yang cukup dini. Gejala-gejalanya terlihat lebih dulu seperti gampang melupakan hal-hal kecil. Persis seperti aku yang ceroboh dan suka lupa hal yang telah di jadwalkan. Tapi kalau Parkinson gak deh. Soalnya selama ini aku kan gak sering kenak pukulan atau benturan. Hm.. pernah sih aku terkena benturan dahsyat di kepala. Itu waktu aku kelas 2 SMP. Waktu itu aku manjat atap rumah tetangga, karena rumahku dua lantai sementara rumahnya cuma 1 tingkat. Alhasil aku jatuh terjun dari atap, plok langsung jatuh ke lantai (rumahnya kosong). Aku jatuh kira-kira sejauh 3-4 meter. Benturan di sebelah kiri jidatku ikut membuat mataku biru selama beberapa bulan.

Balik ketopik awal, teman-temanku sebenarnya udah cukup tahu masalahku ini. Aku bingung, apa penyakit susah mengingatku ini karena sifatku yang pada dasarnya cuek dan gak pedulian pada hal-hal kecil atau karena aku memang ada kelainan di otakku? Atau jangan-jangan ini karena aku pernah selama masa-masa ujian di SMU dulu, setiap hari dalam jangka waktu tertentu mengkonsumsi suplemen otak dalam upaya dan harapan untuk dapat memudahkanku untuk mengingat hapalan (karena dari dulu aku memiliki masalah dengan soal hapalan). Mungkin ini efek sampingnya yang baru di terdeteksi setelah beberapa tahun kemudian. Ah, masa sih? Jadi akhir-akhir ini aku berusaha untuk tidak cuek pada banyak hal dan berusaha tidak mengabaikan hal-hal kecil, berusaha terus mengigat suatu istilah yang terlupa, berusaha untuk menghapal nama orang. Aku berusah untuk melatih otakku dalam mengingat. Aku juga gak tahu sejak kapan aku menderita ini. Aku hanya baru sadar kenyataan ini setelah aku kuliah. Huhuhu… aku sedih. Aku bingung.

Satu cerita tentang hambatan akibat penyakit ku ini. Jadi waktu itu aku lagi nongkrong di kantin seperti biasanya dengan teman-teman satu gankku (Da 2nd) dan abang-abang di asrama. Waktu itu kita lagi cerita-cerita soal parfum. Aku bilang kalau aku makai salah satu collonge produk Body Shop aroma White Musk. Aku nyerocos gini “Iya, aku juga pakai merk Body Shop yang harumnya.. e..e..e.. white.. “ Aduh, pikiranku blank. Aku lupa apa namanya. Seingatku white apa gitu ya? Ingatanku berputar, begitu juga pikiranku. Padahal aku udah lama suka ama bau parfum itu. Aku udah makai selama hampir satu tahun. Aku selalu ingat namanya, karena itu aroma favoritku bareng ma si calon kk ipar. Tapi aku lupa. Apa ya namanya? Iya, collonge ku yang warna ungu itu, namanya apa? Aku lupa. Spontan aku diam. Mereka semua melanjutkan pembicaraannya. Aku diam.. diam.. dan diam. Aku berusaha mengigat-ingat namanya. Tapi aku lupa! Waktu lagi jalan, aku ngomong ke salah satu sobatku “Apa ya namanya? Aku lupa!” terus responnya bilang “Ya udah, kalo penasaran naik aja dulu kekamar terus lihat.” Apa aku harus naik ke lt.4 hanya untuk memastikan nama istilah aromanya itu apa? (waktu itu aku belum pindah ke lt.1) Tapi akhirnya aku memang naik juga ke kamarku dan tenang setelah melihat dan JADI INGAT ternyata namanya WhiteMusk gitu.

Mungkin kita kerap mengalami kejadian seperti itu. Kala kita lupa sesuatu yang biasa aja. Yang kita hadapi sehari-hari dan sudah sepatutnya kita ingat. Kata orang sih hal itu biasa. Iya biasa kalau kita mengalaminya sesekali. Pasalnya bukan cuma sekali aku mengalami kejadian seperti itu. Hampir setiap hari! Duh, aku takut. Gimana ya kalau aku benar-benar menderita Alzheimer? Au ah! Moga nggak!

Monday, July 30, 2007 7:24 P.M.

(Brastagi @ watching room)

Dokter Hewan

Dokter Hewan

Aku yakin kebanyakan anak kecil yang ditanyai soal cita-cita pasti bilang pengen jadi dokter. Mungkin karena anak-anak itu melihat profesi dokter itu adalah profesi mulia karena kerjaannya menolong orang dan sangat di hargai banyak orang. Para orang tua juga begitu. Mereka sangat senang kalau ada anak mereka yang jadi dokter. Sementara orang tua yang lain berharap kelak anak mereka yang masih kecil benar-benar bisa menjadi seorang dokter. Tapi tidak dengan aku! Karena Mom ku seorang dokter gigi, jadi dari kecil aku sudah sering di ajak ke wilayahnya para dokter (prakter dokter, RS, puskesmas). Aku sudah melihat hampir semua yang dilakukan para dokter (not included operation). Tapi aku sama sekali gak memiliki ketertarikan dengan profesi itu walaupun orang tuaku (seperti orang tua lainnya) mengharapkan aku menjadi seorang dokter. Being a doctor ? No, thanks.

Bagaimana dengan dokter hewan? Dari dulu banyak yang orang yang mengira aku kelak bakal jadi seorang dokter hewan. Hm.. ini karena dari kecil aku memang akrab dengan para hewan. Dalam hal ini bukan hewan yang lucu dan imut seperti anjing, kucing dan kelinci. Hewan disini adalah kecoa, cicak, tikus, ulat, keong, serangga, lalat, nyamuk, capung, dll. Itu adalah sederetan hewan-hewan kecil yang pernah jadi peliharaanku. Sekali lagi aku tekankan, lahir dan tinggal di kota kecil di pegunungan memang membuatku tumbuh menjadi manusia langka. Berikut akan aku kisahkan pengalamanku dengan para hewan-hewan ‘lucu’ tersebut.

Waktu kecil, aku punya teman kecil yakni tetangga yang tinggal tepat di sebelah rumahku (satu tembok). Sekarang pun rumah kami yang di Brastagi masih bersebelahan. Dia itu teman pertamaku. Dia teman sekelasku dari TK sampai SD namun SMP kami berbeda. Dulu aku, abangku, dia dan kakaknya sering main bareng di pekarangan rumah (tepatnya kaki tiga jalan, karena rumah kami di pinggir jalan jadi gak punya pekarangan rumah). Suatu hari ketika kami berempat sedang bermain (kira-kira aku masih TK), kakaknya tetanggaku ini menemukan sesuatu yang aneh di pinggir jalan. Rupanya itu adalah kumpulan anak tikus yang warnanya masih merah yang lantas di buang di tepi jalan trotoar. Melihat ini, semuanya pun berunding mendiskusikan apa yang seharusnya dilakukan pada anak tikus malang itu. (Perhatian, dalam hal ini tikus ini bukanlah tikus putih yang lucu yang sering jadi bahan percobaan di laboratorium. Ansak-anak tikus ini adalah anak tikus got yang hitam.) Setelah berunding, kami akhirnya setuju untuk membawanya masing-masing ke rumah. Aku juga turut membawa salah satu anak tikus itu. Ku masukkan ia kedalam kotak korek api kosong. Selama beberapa hari aku selalu menjaganya, merawatnya dan memberinya makan. Namun suatu hari, Mom pulang dari Puskesmas dan menemukan sesuatu yang aneh di belakang kursi (dulu aku menyebut sofa itu kursi) tempat aku menyembunyikan tikus tersebut. Sewaktu kejadian itu, aku sedang berada si sekolah. Setelah pulang dari sekolah, aku yang tidak menemukan peliharaanku itu dengan wajah cemas menanyakan Mom, “Mak, ada liat gak kotak korek api yang aku tarok di bawah kursi?” , dan dengan enteng Mom menjawab “Oh… yang isinya anak tikus itu ya? Udah Mamak buang.” HAH? Udah di buang! Aku sedih dan nangis tersedu-sedu tanpa diketahui Mom ku. Ternyata tikus-tikus yang lainnya juga mengalami nasib yang sama ditangan abangku, tetanggaku dan kakaknya.

Aku gak berlama-lama bersedih karena setelah itu aku menemukan banyak binatang lainnya. Aku menangkapi serangga bersayap yang sering hinggap di makanan dengan menggunakan wadah kaca berbentuk semacam batang rokok sisa tempat cairan bius punya Mom. Aku sering bermain dengan ulat-ulat bangkai berwarna kuning yang berasal dari truk-truk kuning pembawa kotoran yang berhenti di depan rumahku (dimana kotoran tersebut digunakan untuk menyuburkan ladang petani setempat). Aku sering bermain dengan serangga yang menempel di balik lubang semen di trotoar rumahku. Aku suka serangga itu jadi aku namakan ‘binatang kesayangan’. Aku juga beberapa kali memelihara keong yang dulu banyak di jual di kaki lima. Keong-keong itu unik sekali solanya kalau di hembuskan nafas melalui lubang cangkaknya, keongnya akan keluar. Sayangnya selalu keong tersebut mati tragis ditangaku. Kerang-kerang yang gak mau keluar dari cangkangnya kalau ku kasi nafas selalu kucampakakn ke aspal sampai dia mau keluar. Masih banyak lagi pengalamanku dengan para hewan-hewan langka yang kalau diceritakan bisa panjang. Sekarang setelah aku cukup dewasa, kalau dipikir-pikir lagi dokter hewan itu jauh banget dari aku ya?

Thursday, August 02, 2007 ±10.30 A.M.

Addicted With White Tree Oil

Ini adalah kisah tentang pohon biasa yang minyaknya punya kasiat mujarab. Jadi penekannya disini ada pada minyaknya dan bukan pohonnya. Begini ceritanya, dari kecil Momku suka banget mengoleskan minyak ke tubuh ku (dan anak-anaknya yang lain tentunya). Hal itu lumrah karena anak kecil memang dijajalani oleh berbagai macam minyak dengan khasiat yang berbeda, seperti baby oil, minyak kayu putih, minyak telon dan minyak zaitun (eh enggak deh, yang terakhir lebih diperuntukkan untuk remaja dan orang dewasa). Aku pun begitu. Dari kecil, setiap selesai mandi aku selalu di oles dengan memakai minyak kayu putih. Katanya biar aku gak gampang masuk angin. Banyak orang yang suka menciumi aku (masih) waktu kecil, karena katanya aromaku khas perpaduan antara sabun dan shampo bayi, bedak tabur dengan aroma bunga dan minyak kayu putih(sebenarnya lumrah sih kalau anak kecil suka diciumin kayak gitu kan?). Namun kebiasaan memakai minyak kayu putih itu terbawa hinggga dewasa dan saat sudah besar (tanpa bantuan) Mom dalam mengoles ke seluruh badan. Ngomong-ngomong soal oles memoles, aku paling senang kalau Mom mau mengoleskan minyak itu ke seluruh badanku (terutama bagian punggung), apalagi kalau aku lagi sakit sehingga rasanya malas bergerak. Minyak kayu putih yang selalu dipakai Mom yang mereknya Cap Ayam, khas Medan! ( bukan promosi).

Jadi kebiasaan makek minyak kayu putih itu kini menjadi suatu rutinitas. Rasanya aku gak sreg kalau begitu keluar dari mandi (ntah apapun yang aku lakukan disitu) gak segera makai minyak kayu putih. Begitu udara dingin, aku pakai minyak kayu putih. Kalau sakit perut, aku pakai minyak kayu putih. Kalau pusing, akau pakai minyak kayu putih. Kalau flu, aku pakai minyak kayu putih. Sebelum tidur, aku pakai minyak kayu putih. Pergi pergi, aku bawa minyak kayu putih. Pokoknya, I’m addicted with minyak kayu putih.

Sewaktu aku pindah ke Depok dalam rangka melanjutkan studi sarjanaku (aduh rasanya aku nulisnya terlalu formal deh), aku gak menemukan satu tempat pun ato satu orang pun yang makai minyak kayu putih cap ayam itu. It feels like I’m loosing something. Aku jadi sewot. Rasanya ada sesuatu yang kurang, sesuatu yang mengganjal dalam setiap aktivitasku. Alhasil tidurku tidak tenang dan makan pun tidak enak (ah, yang benar aj). Untungnya gak beberapa minggu setelah itu, abangku (satu-satunya itu) berangkat ke Medan dalam rangka… ya pulkam la. Terus mumpung dia pergi, aku titip ama aja minyak kayu putih. Begitu pulang, dia membawakanku satu wadah -semacam bontot- berwarna kuning. Waktu aku buka, ternyata didalamnya penuh berisi titipan minyak kayu putih cap ayam dari berbagai ukuran. Mulai dari yang kecil, sedang hingga yang besar. Ah, syukurnya akhirnya ada! Tapi kuakui yang ini memang kebanyakan sih. Kalau mau di jual lagi juga masih bisa.

Actually, aku gak mutlak kok harus memakai minyak kayu putih yang cap nya itu. Aku sebenarnya bisa makek yang cap apa aja, tapi aku lebih prefer yang cap ayam itu. Hum, aku lagi di Brastagi dan gak bawak minyak kayu putih. I can’t sleep and always thinking of it. Sebegitunya kah? Gak juga seh. Nite, Sleep tight! =)

Thursday, August 02, 2007 01:04 A.M.

(Brastagi @ badroom)

Jogging

Jogging

Kali ini aku akan menceritakan tentang pengalaman lari pagiku alias jogging. Hari ini aku di bangunkan pagi-pagi sekali, sekitar jam 5-an. Dad dan Mom adalah dua orang yang cukup aware ama kesehatan serta rutin melakukan olahraga tiap pagi. Jadi mumpung salah satu anak gadis mereka lagi bareng mereka di Brastagi (yang merupakan kota tempat tumbuh dan lahirku), mereka pun akhirnya mengajakku joging bareng mereka. Untung kemaren aku cukup tidur, jadi aku bisa bangun cepat pagi ini. Udara dingin yang menusuk membuatku pengen lanjut tidur. Tapi… jangan deh. Aku kan udah lama gak olahraga, ntar perutku bisa tambah buncit. Setelah mencuci muka, gosok gigi, minum air plus acara melamun (dalam rangka mengembalikan kesadaranku) yang keseluruhannya memakan waktu hampir 20 menit, akhirnya aku siap untuk jogging. Kita jadi kesiangan deh joggingnya. Kata Mom ini semua karena Uliph yang kebanyakan ‘upacara’. Kemudian dengan memakai stelan jogging lengkap ala Brastagi (topi, jaket hangat, celana panjang, sepatu plus kaus kaki), kami bertiga mulai lari-lari kecil.

Hm... udah cukup lama juga aku gak jalan-jalan pagi. Pemandangan di sepanjang jalan mengingatkanku ke masa-masa kecilku dulu. Rasanya gak nyangka juga ya aku di besarkan selama 14 tahun di kota kecil di daerah pegunungan gini. Tapi walaupun ini kota kecil, setahuku bagi dunia internasional kota ini lebih terkenal daripada kota Medan sendiri. Pasalnya kota ini kan kota tempat tujuannya para turis-turis. Liat aja disini banyak hotel berbintang, banyak wisma, banyak losmen, banyak bungalow. Bahkan ada arena permainan yang mirip dufan mini yang dinamakan Mikie Holiday. Semuanya dirancang untuk para turis baik domestik maupun internasional.

Selama ini aku merasa pemikiranku belum terbuka. Hal ini dilaterbelakangi oleh faktor pengetahuanku akan tata kota. Hingga menginjak usia remaja, kota yang aku kenal hanya Berastagi, Kabanjahe (kota tempat aku melanjutkan SMP) dan Medan. Aku gak pernah berpergian jauh dari lahir hingga remaja. Aku memang pernah pergi ke kota-kota di sekitaran samosir. Itupun masih dapat di hitung dengan menggunakanjari satu tangan. Aku bahkan pertama kali pergi ke Tarutung (nama kota dekat Samosir) waktu duduk di kelas 2 SMP. Sementara itu, aku pertama kali menginjakkan kaki ke pulau Jawa waktu kenaikan kelas 2 SMU. Disitu juga lah aku petama kalinya naik transportasi laut dan udara (naik kapal dan pesawat terbang). Kalau dipikir-pikir, yang begitu sebenarnya ketinggalan banget buat seseorang yang bukan di besarkan dipelosok kan?

Kembali ke soal jogging. Selama di jalan, Dad dan Mom kalau berpapasan dengan orang, pasti langsung menyapa/disapa lengkap dengan pertanyaan basa-basi ala kadarnya itu. Iyalah, ini kan kota kecil yang kebanyakan penduduknya udah saling ngenal. Setelah aku analisis ternyata gak banyak juga yang berubah dari kota ini. Toko-tokonya masih sama, jalanan dua arah yang sempit itu juga masih sama, tugunya pun masih kokoh berdiri. Selama di jalan, aku bisa melihat pohon cemara yang tumbuh berjejeran di dekat trotoar. Ada pula wisma dan hotel yang dibangun diatas bukit lengkap dengan pekarangannnya yang luas dan khas. Penduduk lokal yang sedang berjalan dengan memakai sebagian pakaian adat, saling bertutur kata dengan bahasa daerah (karo). Kuda-kuda yangseliwiran di jalan terkadang membuang tinja sembarangan di atas aspal. Kesemuanya itu indah ya? Selanjutnya bisa kurasakan udara yang dingin menembus hingga ke kulit, embun yang sejuk menempa pipiku dan membuatnya memerah. Dingin... identik dengan kota kecil ku ini.

Setelah menjelajahi jalan aspal berbukit dan melewati beberapa tempat penginapan. Akhirnya kami nyampe juga di atas bukit (Gundaling.red). Dari atas situ bisa dilihat dengan jelas pemandangan kota Brastagi. Indah memang. Rumah-rumah berderet, jalan-jalan berkelok kelok, ladang-ladang berjejer di tepi. Menatap kearah kejauhan, aku bisa melihat awan yang menutupi sebagian lereng gunung Sibayak. Diseberangnya keadaan gunung Sinabung yang tidak kalah indah. Aku bisa mengerti mengapa selama ini aku kurang artistik terhadap karya seni yang menyangkut keindahan ala. Itu karena aku ilfil. Selama ini selalu melihat alam yang indah di Brastagi, gak beda dengan yang selalu diperlihatkan di kartu-kartu pos pariwisata. I’m very proud of Brastagi.

If someday I become a succesful person, I’ll always back for u my city. I promise... =)

Tuesday, July 31, 2007 ± 2.00 P.M.

Asuransi

Hari ini sebelum pulang ke Berastagi, aku, Mom dan Dad pergi ke kota (tengah kota Medan.red) buat nyelesein segala urusan asuransi-asuransi Mom gitu. Waktu masuk ke dalam kantor asuransinya, aku merasakan suasana kantoran yang khas. Tenang, kelem, teratur, terorganisir, rapi, sopan dan sejuk dengan AC nya. Pikiranku pun melayang. Hm.. aku jadi pengen kerja dikantoran. Dalam hati aku berguman ‘Ntar kalau aku udah punya suami, aku memang pengen berprofesi jadi penulis. Tapi it’s OK kalau aku kerja di LSM kantoran dimana kerjaanku banyakan takehome. Terus kalaupun aku ke kantor di hari kerja (sen-jum), aku bakal pulang kerumah sebelum suamiku pulang coz aku harus urusin segala keperluan RT.’ Hm.. bener-bener khayalan sang calon istri. (Aduh ulip well prepare bgt ya?)

Anyway, kami kan pergi kedua tempat asuransi. Nah, kedua tempat itu benar-benar mengingatkanku pada ingatan masa lalu. Tempat pertama itu mengingatkanku kira-kira 2 ½ tahun yang lalu aku pertama kali ke situ dengan memakai seragam sekolah. Waktu itu aku izin sekolah supaya bisa bareng bonyok ke sana (baru pertama kalinya di kasi bonyok izin sekolah untuk alasan yang kurang penting). Terus karena bosan disitu, aku foto-foto di HP Mom. Tadi juga kejadiannya gak jauh beda dengan itu. Aku bosan, terus aku foto-foto. Di album foto HP Mom foto ku yang paling pertama dan fotoku yang paling terakhir (mom gak ganti Hpnya selama ini). Setelah aku bandingkan,ternyata aku banyak berubah. Iyalah! People change.

Ditempat kedua (digedung selekta), aku ingat itu gedung yang dipakai untuk malam seni sekolahku kira-kira lebih dari 2 tahun yang lalu. Waktu itu aku motong poni rambutku pendek sampai diatas alis. Disitu pula aku pertama kali dekat dengan sobatku Jenny + Gaby. Waktu aku masuk kamar mandinya yang berlampu neon kuning, aku jadi ingat percakapanku dgn Jen+Gb “Lip, rambutmu kayak Cleopatra. Hahaha”. Kira-kira seperti itu lah tanggapan mereka atas poni anehku.

Ngomong-ngomong soal asuransi, tiba-tiba saja salah satu pegawai asuransinya ngomong gini samaku “Kalau kamu masuk asuransi dari sekarang, ntar diusia 50 tahun kamu udah dapat 1,5 M lhow.” Hm… 1,5 M? Aku gak tertarik. Membayangkan aku diusia 50 aja rasanya enék. Disitu kira-kira aku sudah punya cucu, duduk di atas kursi goyang. Dengan memakai kacamata, aku melihat polisku. Disitu tertulis angka 1,5 M. Membayangkannya saja... I’m not intresting at all. Lagian siapa yang tahu apa yang terjadi 30 tahun kemudian? Nilai 1,5 Milyar di 30 tahun kemudian mungkin dianggap biasa aja. Ngerti kan?

Monday, July 30, 2007 6:17 P.M.

(Location: Brastagi @ watching room)

Walking Down Town

Hari ini aku keluar dari sarang penyamun. Bukan deh. Hari ini setelah tiga hari besemedi dalam rumah yang dingin, aku akhrinya jalan-jalan sama Mom. Kami berdua pergi ke Kabanjahe, kota kecil yang letaknya 11 km dari Brastagi. Kota tempat aku SMP dulu. Kota itu hangat dan sejuk. Tidak sedingin Brastagi, tidak pula sepanas Medan. Hari ini aku pertama kalinya lagi naik angkot itu. Aku ingat ada beberpa jenis angkot yang beropreasi dsitu. Selama di jalan, aku perhatikan tidak banyak yang berubah dari kota ini. orang-orangnya , jalanya, bangunannya. Emamng udah banyak pembangunan disan-sini. Tapi keseluruhannya tidak mengubaj wajah kota itu.

Aku jadi teringat bagaimana perasaanku waktu kecil. Waktu pertam akalinya Dad membawa ku ke kota itu. Waktu itu aku mungki n masih TK atau Playgroup. Jantungku berdegup menemukan sesuatu yang berbebeda di kota itu. Masih terngiang suara Dad waktu itu. Sambil mengendari mobil ia berkata “Ini namanya tuku catur.”, kemudian ia menunjuk pada sebuah tugu. Ketika mobil sedanku berbelok, aku bisa melihat dengan jelas sebuah tugu berbentuk anak catur Kuda hitam dengan gagahnya.Aku memang suka kota itu, karena berbeda dengan Brastagi yang dingin, sudut-sudut jalan di kota itu seperti mengajak ku terus bangkit. Tetapi tetap saja secara keseluruhan, tata kota Brastag jauh lebih baik.

Ketika melewati bekas SMP ku dulu (SMP N 1 Kabanjahe), aku bagai mengulang kembali memori masa laluku. Masa-masa bandelku di dulu. Teringat tiap kejadian di jala-jalann yang aku lewai sepulang sekolah, teringat petualanganku, kebandelanku, teman-temanku dan kisah asmara monyet ku.

Akhirnya kami sampai di pajak yang berada di inti kota Kabanjahe. Setelah belanja ini-itu, kami akhirnya memutuskan untuk makan. (Mom belanja pakaian dalam yang beratnya hanya beberapa ons seharga Rp.320.000,- ) Aku jadi ingat tempat makan yang letaknya masih di pajak itu dulunya terkenal sekali di kalangan teman-teman SMPku. Hanya untuk megulang kenangan lama, aku memesan bakso yang dulunya selalu ku pesan. Sebenarnya aku gak begitu pengen makan bakso karena :

  1. Aku kan semi vegitarian, sementara bakso itu full of meats.
  2. Masih ingat kan berita heboh beberapa saat lalu yang bilang kalau dalam pembuatan daging bakso ternyata memakai daging kucing dan daging tikus
  3. Kuah bakso itu banyak vetsinnya! Itu pasti!
  4. Aku gak yakin dengan saus dan sambal yang di hidangkan disitu. Aku pernah dengar certia ttg cara pembuatan saus-sambal oleh bibikku yang secara langsung melihatnya. Ceritanya mengerikan! Bukan mustahil kan dia membuat saus-sambal itu dengan mencampurkan cabe-tomat busuk dan koran di blender jadi satu.
  5. Aku gak yakin sama cabe yang di hidangkan nya juga.
  6. Aku melihat, mereka mencuci piring dan segala perkakas lainnya dengan hanya mencelupkan nya ke air beberapa kali tanpa pencucian yang steril.
  7. Aku gak yakin sama orang yang masak, soalnya yang masak kan cowok. Walaupun pada kenyataannya koki adalah para cowok, tapi aku yakin sepenuhnya bahwa (dalam kasus umum) cewek jauh lebih bersih/steril daripada cowok.
  8. Ah, tampaknya aku terlalu belagu ya?

Akan tetapi, karena alasan yang tadi telah aku utaran ‘Ingin merasakan kembali hal yang pernah aku lakukan sebelumnya’, akhirnya aku makan saja baksonya.

Sejenak aku memerhatikan cara hidup penduduk sini secara detail. Banyak budaya luar (asing) yang masuk kedalam kota-kota kecil di seluruh pelosok Indonesia. Budaya luar itu terutama di bawa oleh para kaum muda yang ingin menirukan gaya hidup kota-kota besar (metropolitan). Keseluruhannya berpadu dengan budaya setempat yang kemudian mempengaruhi cara hidup para warganya, baik kaum muda dan tua. Aku, kamu, kita semua adalah salah satu kaum muda itu. Sedikit perubahan yang kita perbuat akan memberi kontribusi yang berarti bagi daerah, kota, provinsi dan negara kita. Dalam hati, aku pun berjanji bahwa aku akan berusaha yang terbaik demi kebaikan bersama. Believe me, you’re so worthy!

Thursday, August 02, 2007 2:47 P.M.

Piano (Lamar Aku dengan Piano)


Kau tidak tahu kan seberapa besar kecintaan ku pada alat musik itu? Aku juga gak tahu sejak kapan aku suka. Seingatku waktu kelas 2 SMP aku mulai mengikuti les Piano. Realisasinya itu atas saran Dad dan atas permintaanku juga. Aku masih ingat waktu itu Dad bilang ama Mom “Ada baiknya anak diasah kemampuan seni nya juga.” Setelah itu aku merengek-rengek dibeliin piano. Terakhir aku malah dibeliin keyboard terbaru yang canggih. Sekarang juga keyboard itu masih terasa canggih.

Aku suka sekali… suka sekali mendengarkan suara yang keluar dari senar yang digerakkan oleh tekanan diatas tuts hitam putih. Keren banget! Tapi sekarang aku udah kuliah. Kemampuan main piano ato keyboardku juga gak berkembang. Ini membuatku agak sedih. Aku sedih karena aku juga gak merasa diriku memiliki keinginan dan tekat yang kuat untuk mendalami alat musik itu. Memang aku berapa kali nampil. Pernah di Paskah gereja, pernah di Café, pernah juga waktu Natalan Asrama. Tapi aku merasa penampilanku gak maksimal. Aku ingin lebih advance. Kalau aku kumpul dan latihan dengan para pemusik lainnya, rasanya aku senang sekali mendengar jiwa mereka yang terhipnotis untaian-untaian nada manis. Ingin aku terus disana dan menghentikan waktu. Sayangnya emosi untuk dapat berlatih dengan baik hanya bangkit kalau aku kumpul dengan para pemusik lainnya. Ini karena kalau aku bersama mereka aku bisa menanya ini itu, memperhatikan ini itu dan memperhatikan jiwa mereka yang tenggelam dalam permainan mereka sendiri. Aku jadi bingung sendiri. Aku bertanya dalam diriku, ‘Apa aku ini penikmat musik atau pemain musik?’. Bila memang keduanya, aku takut aku tidak punya hasrat yang besar jadi seorang pemain musik. Padahal aku suka sekali, suka sekali, banget! Banget! Banget! Aku suka kebayakan lagu yang instrumen pianonya kental, aku suka permainan akustik piano, aku suka ama pianis-pianis klasik. Aku suka komponis klasik kayak Mozart, Bach, Vivaldi, Chopin. Bahkan ultahku sama dengan Mozart, 16 November. Itu tandanya kami memang punya keterikatan kesukaan pada alat musik itu kan?

Piano.. piano.. piano. Piano ditemukan disekitar abad 18 oleh seroang berkebangsaan Austria. Piano pada awalnya ditemukan tidak sama dengan piano yang kita sering sekarang. Kemudian piano terus mengalami perkembang hingga sekarang ditemukan piano elektrik yang modern. Piano dalam bahasa kebangsaan si penemunya memiliki arti keras.

Jadi pemusik di PO aku harap dapat mencegah terkuburnya bakatku. Huff.. aku sungguh senang melihat orang handal bermain piano. Kalau saja punya kekasih seorang pianis, wuah kerennya! Sekalian juga bisa mengembangkan kemampuanku. Aku berkhayal, andai saja aku dilamar dengan Grand Piano warna putih! Pasti langsung kuterima =)

Monday, July 30, 2007 ± 10.00 A.M

(Medan @ my room)