Aku pernah menyukai seseorang hingga setiap apapun yang aku kerjaan dan lakukan sambil mengingat dia. Aku pikir itu saat dimana perasaan kita mulai mendalam. Barusan aku bertemu dengan sesorang itu. Dari kemaren memang aku sudah janjian dengannya. Tapi entah kenapa baru tadi bisa ketemu. Mendadak sehari sebelum dia pulang.
Tadi siang waktu aku lagi berpikir untuk menghubungi dia, eh tiba-tiba dia ngirim pesan duluan. Dia bilang : “Liph, pergi yuk. Sekarang.” Kira-kira seperti itu bunyinya. Aku pun langsung ngirim pesan ke adekku bilang kalau aku mau jemput dia. Soalnya aku pikir kalau cuma ketemu berdua sama dia, malas aja. Sesungguhnya aku gak punya perasaan lagi sama dia semenjak pindah dari Medan. Tapi entah kenapa waktu aku nunggu dia lama, aku merasa agak deg-degan. Nantinya, waktu kami jalan aku masih agak kagok juga. Karena dia lama tiba ditempat yang sudah dijanjikan, aku ngririm pesan ke dia. Terus dia balas “Tunggu ya? Kami lagi dijalan.” Kami? Aku pikir dia pergi sendiri kesitu.
Setelah sekian lama nunggu, akhirnya dia memunculkan diri juga. Waktu jalan melewati food court tiba-tiba adekku bilang “Ih, banyak kali pun yang liatin si itu.” , sambil menunjuk ke arah dia. “Siapa?” ,kutanya memastikan. “Itu, si Mr. X.” jawab adikku.
Oo.. kalau di pikir-pikir memang betul juga. Banyak memang yang perhatikan dia. Sejujurnya dia memang makin cakep. Apalagi dengan style barunya yang gaya kuliahan. Waktu makan, kami ketemu seorang teman lama kami. Terus temen kami ini tanya gini, “Lip, udah ada pacarmu disana?”. Duh.. pertanyaan menjebak neh. Aku bingung. Tapi entah kenapa aku jadi jawab “Gak tahu lah.” Harusnya aku bilang aja “Enggak! Ga ada.” Itu lebih simple dari pada pernyataan lainnya. Soalnya terlalu norak juga kan kalau aku bilang “Dulu aku pernah suka sama orang beberapa kali, tapi gak jadi.” atau “Ada yang naksir aku, tapi aku rasa dia kurang cocok.” Tapi aku udah terlanjur jawab itu, mau apa lagi. Reaksinya si seseorang itu pun biasa aja dengan jawaban ku itu. Aku sengaja ngasih kesan ‘gantung’, gak jelas gitu antara iya atau tidak. Supaya aku tahu gimana tanggapan dia. Ternyata dia biasa aja.
Setelah ngobrol panjang lebar plus makan. Akhirnya kami jalan pulang. Aku dan adikku berjalan dibelakang dia. Kemudian aku bertanya lagi pada adekku ,
Uliph: “Iya ya dek, banyak yang liatin dia ya? Coba kita buktikan.”
Adikku jawab: “Iya, tadi aja pelayannya sampai ngeliatain gini.”
Adekku kemudian mempraktekkan gaya orang yang ngeliatin terus tanpa berkedip. Waktu aku perhatikan, emang benar kalau banyak yang perhatikan dia. Kalau diingat-ingat lagi, dari SMU memang udah banyak sih yang ‘gitu’ ama dia. Jadi sebetulnya gak perlu diherankan kan?
Pada akhirnya kami berpisah. Aku pergi ke arah toko buku dan dia kesana. Aku yang masih memikirkan kejadian tadi bertanya lagi sama adekku,
Uliph: “Dek, emang dia ganteng ya?”
Terus adekku jawab: “Iya, dia kan cakep. Charming. Dia juga karena tahu diliatin orang tadi makin bergaya PD.”
Uliph: “Hm.. gak cocok banget samaku ya? Aku kan biasa-biasa aja. Gak ada yang liatin.”
Adekku jawab : “Ah, enggak kok lip. Kau kan manis.”
Uliph: “Tapi ada gak yang liatin aku kan?”
Adekku lagi : “Ada kok. Tadi aja banyak yang memperhatikan kau. Cumannya kau aja yang gak tau.”
Uliph: “Iya ya? Siapa?”
Adekku : “Iya, satpam, pegawainya, tukang bersih-bersih.”
Uliph: “Yah… Ela, serius lah.”
Adekku : Enggak la. Bukan mereka itu pun ada kok yang liatin kau.
Uliph: “…” (diam seribu bahasa dan merenung)
Kenapa aku ini jadi gak memiliki self confidence yang tinggi ya?Aku mengerti perasaan yang aku rasakan sekarang ini. Kala aku lagi merasa down dan perlu teman bicara, aku perlu orang yang bisa encourage. Thanks Lord that I still have my sister beside me. Aku jadi ingat perasaanku dulu dan aslasan kenapa aku butuh dan sayang kedua sahabatku itu. Aku memang butuh orang mendengarkan cerita, keluhan serta rasa sedihku. Teman untukku bercerita.
Setelah masuk ke toko buku. Aku kembali ke dunia yang aku sukai. Dunia baca-tulis. Aku pikir aku memang harus kembali ke jalanku lagi, walau aku masih tetap merenungkan pertemuan tadi. Waktu dimobil dalam perjalanan ke rumah, aku kembali bertanya sama Ela.
Uliph: “Dek, menurutmu gimana percakapan kami tadi. Lucu ya?”
Adekku: “Enggak, bukan kocak tapi kau yang konyol.”
Hening…
Uliph: “Dek, menurutmu mereka menggangap aku apa ya?”
Adekku: “Aku rasa orang itu menganggapmu bukan cuma teman biasa, tapi teman baik.”
Hm… hidup memang selalu berubah. Pertemuan tadi sesungguhnya tidak memberikanku kesan mendalam. Ada sesuatu didirinya yang membuatku merasa yakin bahwa dia tak ubahnya dengan cowok-cowok kebanyakan.
Aku rasa, aku benar-benar gak menyukaimu lagi. Sekarang ini aku sungguh tidak begitu lagi peduli akan apa yang terkait dengamu. Yup, masih banyak yang menunggu di luar. Aku yakin pasti ada sesuatu yang luar biasa yang menggantikan keberadaanmu dulu.
Tuesday, August 07, 2007 7:34 P.M.