Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Hope is the most exciting thing in life and if you honestly believe that love is out there, it will come. And even if it doesn't come straight away there is still that chance all through your life that it will.” -Josh Hartnett-

Monday, 28 July 2008

Have a Nice Holiday , Liph!

Sekarang masih jam 2:45 pagi di akhir bulan Juli. Lebih sejam yang lalu aku terbangun dan sampai sekarang masih belum bisa tidur lagi. Bukan karena insomnia, tapi karena perut mules kemaren sore kebanyakan ngopi bareng. Karena gak bisa tidur lagi, aku memilih untuk browsing aja sambil bagi pengalaman di blog.

Liburan semester ini (yang berkisar 3 bulan) aku mengisi waktuku dengan kegiatan yang cukup menyenangkan. Kalau dibanding-bandingkan, mungkin bisa dikatakan ini adalah liburan yang paling menyenangkan dalam beberapa semester di kuliahanku. Satu bulan misi traveling dan satu setengah bulan menghabiskan waktu di Medan sungguh asyik lho. Aku mengalami hari—hari yang manis. Mungkin orang menganggapnya biasa tapi aku benar-benar menikmatinya. Biar ku jabarkan kegiatanku ya?

Pagi: Bangun sekitar jam 7.00 (paling lama jam 8.00 aku udah diteriakin), begitu bangun (biasanya) langsung membaca renungan pagi terus sarapan.

Dari jam 9.00-12.00: latihan piano, browsing internet, nulis, baca buku atau nonton DVD.

Habis makan siang (dari jam 12.30- 16.00): Hang out bareng teman2 (kalau gak ada rencana keluar, ya melanjutkan kegiatan baca buku dan nonton DVD dan entah kenapa tumpukan buku dan DVD wajib baca dan wajib tonton ku gak pernah habis)

Dari jam 16.15- 19.00: Pergi fitness

Dari jam 20.00-23.00: (setelah mandi dan makan malam) Nonton TV dan sharing bareng Dad dan Sista. Terus kalau bosan ya browsing lagi atau nulis lagi.

Aku senang berada di sini sekarang. Bisa mengup-date pengetahuanku tentang lagu-lagu baru yang lagi in, mengup-grade tingkat gaulku (^^)v dan menambahkan list buku dan film yang sudah aku baca. Di lingkungan kampus dan di kosan Depok mungkin menyenangkan juga tapi dengan atmosfer yang berbeda. Di kampus begitu banyak kegiatan yang aku ikuti dan cukup berat beban yang kupinkul sehingga kadang membuatku menepiskan pikiran untuk melakukan hal-hal yang tidak menjadi prioritas (namun ku gemari). Di sini sekarang ini, kalau aku lagi bosan, aku tinggal menghubungi teman-temanku dan mereka selalu siap untuk di ajak jalan. Kalau sedang sedih dan gembira selalu ada yang bisa di telepon untuk menceritakan perasaanku. Selalu ada keluarga yang memperhatikan gerak-gerikku satu harian. Benar-benar menyenangkan! Lepas dari SMU, aku pikir aku akan kehilangan mereka (teman-temanku) semua. Tapi ternyata enggak, karena dalam diri mereka aku telah mendapatkan tempat yang berarti. Aku telah memberi bekas dalam hidup mereka dan begitu juga sebaliknya. That’s what friends for.

Belakangan entah kenapa jadi kompak banget dengan dua teman SD ku yang dulu (setelah melakukan perjalaman yang juga bisa dikatakan team building ke Bali ^^). Senang sekali belakangan bisa main bareng, nongkrong bareng, ngopi bareng, hang out bareng bahkan on-line bareng di Internet dan YM. Tapi sebentar lagi masuk kuliah dan mungkin komunikasi kita juga akan terhambat dengan kesibukan di kampus masing-masing (di Bandung, Medan dan Depok). Aiya…..! Tahun depan traveling lagi yuukkkkk! Ke Phuket mau??? Ku pikir-pikir selagi muda gak ada salahnya mencoba hal-hal yang seru dan menyenangkan. Let’s enjoy our life friends!! (^_^)P



Happy Holiday Honey! ^^

(foto di ambil 4 hari yang lalu di Merdeka Walk Medan pukul 14.30 WIB)

Saturday, 26 July 2008

New Accident Wid Motorcycle

MALU! Haia, aku malu sekali. Uhukk…. Tenang dulu baru bisa menceritakannya. Em… jadi gini. Barusan tadi aku tumben-tumbennya bisa bangun cepat, mungkin karena semalamnya gak tidur larut. Terus tiba-tiba berinisiatif mengantarkan adikku tercinta itu ke simpang rumah naik motor. Ya udah setelah adikku beres-beres ini-itu sebentar, aku pun mengantarkannya. Emang naik motor pagi-pagi itu segar banget ya? Udara dinginnya sejuk dan masih bersih. Selama di jalan (yang gak sampek 10 menit ituh) aku dan adikku sempat ngobrol sebentar. Nah, setelah menunggui adikku naik angkot ke sekolah aku pun bersiap pulang ke rumah. Daaan di situ dia masalahnya. Waktu aku coba menstarter motornya yang udah sempat mati, gak bisa. Haiaaa… beberapa kali di coba gak bisa juga. Gimana ini? Mulai ada orang yang memperhatikanku. Malu ah! Terus ku coba lagi pakai pedal kaki untuk menstraternya, aih gak bisa juga! OMG! Ku coba dan ku coba tapi tidak bisa juga. Ada kali 15 menit aku berkutat dengan motor sial itu. Aku pura-pura bertampang cool dan seolah-olah bisa menyelesaikan permasalahan ini. Tapi gak bisa!!! Parahnya lagi selain diliatin orang ternyata tempatku nge-tem itu banyak anjingnya. Aih… anjingnya udah memperhatikanku lagi. Pasti dalam hati dia berpikir kalo aku ini pelaku curanmor. Mati aja aku kalo sampai digigit anjing dan kenak rabies. Malunya double bo….! Aku bingung banget. Aku gak bisa apa-apa? Soalnya aku meninggalkan semua barang-barangku di rumah, gak ada satupun harta ku bawa selain baju yang kupakai sekarang itu. Hp buat ngubungin Dad gak ada, ongkos buat pulang biar motornya di jemput pun gak ada. Aduuhh…! Akhirnya aku mendorong motornya maju ke depan supaya gak diliatin anjing. Sialnya ternyata di depan itu ada toko kelontong yang peliharaan anjingnya banyak. Haduh… setelah berkeringat karena ngutak atik motor akhirnya seorang Bapak datang menghampiri dari arah berlawanan dengan membawa motor. Dia bertanya “bisa dek?” terus aku geleng-geleng kepala. Aku berpikir kalo dia bakal bantu aku, tapi ternyata dia terus sampai ke bengkel di sono. Aiiih.. di tungguin si Bapak gak datang lagi. Tetapi aku tetap stay cool! (nih anak ya?) Nah, puncaknya beberapa menit kemudian muncul seorang pria dari seberang dengan perawakan (ehmmmm….) lumayan lah. Badannya tegap dan pakai pakaian casual tapi rapi. Aku tidak berhenti menatapnya ketika mendekatiku. (bukan karena terpesona, tapi karena dalam hati bertanya; ‘Ne orang mau cuma nanyak aja atomau bantuin?’). Terus tiba –tiba dia ngomong,

Mr. X: “Napa Mbak, bisa?”

Uliph: :”Ehe… gak tau neh kenapa motornya?”

Terus tanpa banyak basi-basi dia mulai menginjak pedal kakinya terus menstrater dan seketika aja langsung bisa. Aku langsung merasa kayak orang bodoh. Terutama karena tampangku yang kacau juga. Iyalah bayangin aja aku baru bangun setengah jam lalu, belum mandi dan rambutku acak-acakan terterpa angin waktu di motor tadi. Lebih lagi aku pake baju tidur selamam (baju merah jambu kekecilan gambar kartun dan celana super pendek bertuliskan Pooh). OK, balik ke si pria tadi. Setelah dia memanaskan motornya dan juga menarik gas kencang sekali pada posisi netral, akhirnya dia berikan lagi tu motor ke aku.

Uliph: :Makasih” ucap ku lirih.

Mr. X: “ Iya sama-sama” ucapnya agak cuek.

Ok masalah bukan berhenti di situ. Setelah aku belok ke persimpangan (5 meter dari situ) tiba-tiba motornya mati lagi. Hohohoho… bagus! Ku coba lagi menstarter gak bisa juga!!! Si pria tadi sedang berjalan ke seberang dengan posisi membelakangiku saat itu. Aku pun menatap lirih ke arahnya. Tapi dia menghilang dibalik pintu masuk warnet. Aku jadi bingung dan terus menatap ke arah kaca pintu warnet yang berwarna hitam reben. Iya, seperti yang udah bisa di tebak, gak beberapa detik kemudian dia keluar sambil menyusulku.

Mr X: “Mati lagi ya Mbak?”

Uliph: Menganguk-anguk polos.

Terus dia bawa tuh motor ke tepi jalan setelah sebelumnya memintaku turun. Nah, begitu dia coba menstrater pakai pedal kaki dan menstel chock nya, sekali aja langsung bisa idup si motor sial. Aduh, kwadrat deh rasa maluku. Dalam hati aku merasa seperti cewek bodoh yang gak tau motor (emg iya kan?). Terus si pria itu ngoceh ini itu soal motor kalau seharusnya aku bawa gini dan gitu dan gak boleh dilepas gasnya blablabla (gak ngerti ah, tapi aku ngangguk aja). Selesei upacara menarik gas sekencangnya, dia pun memberikan motor lagi padaku. Aku pun berterimakasih lagi. Begitu ku bawa motornya, ternyata aku menekan gasnya kekecangan sehingga sedikit loncat. Aia… Liph kau sedang membuktikan bahwa kau tidak bisa naik motor ya? Terus waktu motornya udah jalan agak jauh, ku liat si pria tadi di belakangku masih memperhatikanku. Emang aku orang yang memprihatikan dan perlu diawasi untuk tidak melakukan hal yang aneh-aneh ya? T.T Ku rasa kekwatirannya itu beralasan soalnya pas lampu merah di perempatan jalan aku langsung nerobos aja, karena takut nanti mesinnya mati lagi. Hehehehe (^^)v

Anyway, thanks sekali lagi ya Mr.X. (Ternyata masih banyak kok orang yang care di Medan ini.)

PS. Sesampainya di rumah, aku nanya ama Dad perihal si motor. Ternyata si motor emang butuh setelan lagi daaan si Uliph yang cuma tau bawa kendaraan tanpa tau menukangi mesinnya tentu aja bingung. ^^

Have a nice holiday all!



(Pic 1. My Dad's Lovely Motorcycle/tampak depan)


(Pic 2. My Dad's Lovely Motorcycle/tampak samping)



Better to Left u Boi!


Better Than Love

Song by Sherina

Seemed impossible, seemed absurd

I didn’t even know you before

Kept my distance, closing in

I don’t mind caressing your skin

Bridge:
What did you say, what did you do?
Somehow, I feel I’m enchanted by you
Flying high on a mountain high
Suddenly you look as bright as the sky

Reff A:
Something old, something new
Something I didn’t thought could be true
Have I forgotten, or have I never
Felt like this, as light as a feather
Not interested in love,

but I’m attracted to you
I hope that you feel the same way too
A little too fast but way too long
Though I’m not sure where I belong
Back to Bridge,

Reff B:
Something old, something new
Something I didn’t thought could be true
Love’s too strong and a bit cliché
For now this is enough, I’ve got a long way
Something old, something new
Something I didn’t thought could be true
I’m afraid to ask but I need to know
Would you want me to stay?
Or would you want me to go?

Backing Vocals:

“These are my fee——lings…
(These are my…
I hope you’ll understand… (understand…)
feelings…)
It might not be much,
but it’s more than I can spend….”

This song dedicated to my e-love

And I think that it’s better for me to left u now!

“Si Penebar Jaring” (kayak JPS jadinya)

-Liph-




Wednesday, 23 July 2008

Mission 2: Jadi LO The Titans Sehari

OK, jadi ini adalah misi liburan selanjutnya dari Tim Bali (aku, Pebi dan Ema) setelah menjalankan satu misi yang pada akhirnya menjadi mission failed. Misi baru ini sepertinya mengasyikkan karena menurutku bisa mengupgrade taraf ‘gaul’ku setelah tugas-tugas di HI membuatku menjadi manusia yang ‘gaul hanya pada orang tertentu saja’. Yayaya, aku tau pasti yang baca gak ngerti artinya, tapi cerna sendiri aja lah, malas juga jelaskannya. Ehm…. idenya sebenarnya udah OK cumanya ada sedikit kendala yang membuat terhambat. Iyup, kendaraannya! Masalahnya (seperti yang udah sering aku ceritakan) mobilku sedang dalam masa perbaikan setelah aku menabrakkannya dengan pembatas jalan, sedangkan mobil Pebi yang satu bannya botak yang satu lagi ganti oli. Entah apa lah anak itu! Terus Ema bilang “Gak mungkin juga kita ngajakin jalan The Titans pakek angkot kan?” Hm… iya juga ya? Nah, setelah melalui percakapan panjang dan lobi melobi, jadilah mobilku yang belum sempurna di pakek.

Esok harinya sekitar jam 9 pagi, aku -setelah menjemput teman-temanku itu- pun berangkat ke Hotel Soechi a.k.a Novotel hotel Medan. Sesampainya di sana, si Ema langsung memanggil K’Ony a.k.a Sony The Titans, itu loh basis nya the Titans. Aku juga gak tau dari mana anak ajaib itu kenal sama salah satu personil band asal bandung itu. Padahal jurusan kuliahnya di Unpar (Universitas Parayangan-Bandung) itu , sama dengan diriku Hubungan Internasional dan bukan Etnomusikologi. Haiiia… emang ini anak sedikit ajaib. Nah, acara ngobrol-ngobrol di lantai sembilan Hotel Soechi dengan K Ony asyik juga. Hal ini bukan karena sewaktu ngobrol, K Ony yang baru bangun tidur cuma mengenakan boxer (karena sebenarnya aku ilfil melihat cowok cengkring pakek boxer), tapi karena kursi tempat kami ngobrol itu dekat dengan lift, jadi aku bisa melihat personil band-band tenar lain seperti Nidji dll (entah siapa la itu tapi enak aja mandang anak band yang stylish) dengan seksama. Haiia…. Jadi selama percakapan kerjaan kami bertiga Cuma menganguk anguk sambil celingak celinguk kanan dan kiri. Oya lupa bilang, jadi para musisi ibu kota seperti Nidji, The Titans, BCL, Shanty, Tere, dll pada hari itu sedang berada di Medan karena semalamnya (tanggal 20 Juli 2008) ada acara “Sounds Beat” kalo gak salah. Masalahnya aku juga gak nonton karena (ya ya classic) acara kelurga jadi gak gitu ngerti banget acaranya. Balik ke The Titans, nah, karena merekanya mengejar pesawat jam satu ke Jakarta makanya gak bisa ngobrol panjang. Akhirnya sekitar jam 12-an gitu mereka cabut. Namun sewaktu aku menjalankan mobil, si Ony itu menelpon lagi dari mobilnya, minta tolong di antarin beli oleh-oleh gitu ke Jl. S. Parman (pusat oleh-oleh di Medan sekaligus dekat dengan X SMA ku dulu). OK, dengan senang hati kami antarkan. Mobil rombongannya tepat berada di belakangan mobilku, selalu dan selalu. Bodoh juga ya nyewa supir artis yang cuma tahu jalan dari hotel ke Polonia. Singkatnya sesampai di TKP. Ya… lumayan heboh juga la di tempat beli oleh-oleh itu. Maklum lah ya, gak seperti di Jakarta, orang Medan (dan beberapa daerah lainnya) kan jarang ngeliat artis ibu kota, makanya sekali ngeliat itu loh agak berlebihan juga menurutku. Ku pikir-pikir enak juga ya jadi public figure, dimana-mana dikenal, dikagumi dan dipuja. Selesai beli oleh-oleh, K Ony-nya minta di antarin lagi ke bandara. Di situ sebenarnya aku udah malas tapi waktu si Ony itu nepuk nepuk kepalaku, ( ya ya dia tau cara memperlakukan cewek), apa boleh buat, dari pada dia tersesat di Medan bung!, pikirku dalam hati.

Kami membawa rombongan lewat gang-gang yang sering kulalui waktu SMA kalo mau motong jalan ke sekolah. Kami bawa berputar-putar, yah…. biar di buat kesan kayaknya Medan itu gedek gitu (biar dia gak underestimate kata Ema dan Pebi, ahahaha) dan akhirnya sampai lah di bandara Polonia. Di bandara kusaksikan lagi beberapa orang melirik dan menyalami si Andika yang x-personil ‘Peterpan’ itu. Emang sih dari antara The Titans yang paling tenar kan vokalisnya sama si Andika. Dalam hati berujar ‘Kapan ya jadi orang terkenal?”. Uhuk… uhuk…. Ngarep!

Terakhir si Ony memberi kami lagi salam perpisahan dengan pakai acara cipika cipiki (OMG! I’m not get usual wid that life style). Setelah salam dan dengar ucapan terima kasih dari Andika kami pun cabut ke rumahku. Waktu lagi asyik tongkrongin laptopku yang lagi connect internet di ruang tamu, tiba-tiba TV yang menyala menayangkan acara yang mana menghadirkan bintang tamu si The Titans tadi. Hm…. akhirnya aku berkontamplase, dipikir-pikir si Artis sebenarnya orang biasa ya? Gak ada yang terlalu istimewa kecuali bakat mereka di bidang entertainment. Sama seperti diriku yang sering menemukan titik jenuh dalam hidupku, pergaulanku dan pelajaranku di kampus, mereka juga pasti begitu. Dan suatu saat kala bintang mereka meredup, mereka juga akan menghadapi masa yang sulit. Huff… hidup, jalanilah dengan sepenuh hati. Hari itu aku melanjutkan hidupku dengan bercanda-canda dengan mantan teman SD-ku, si Tim Bali yang baru belakangan ini jadi kompak banget. Iya siapa lagi kalau bukan Pebi dan Ema. Kami akan melanjutkan hidup dengan semua tantangannya. Selagi masih muda, kenapa gak ya? Maka hidup kami sekarang ini pun dilanjutkan dengan misi selanjutnya. ‘Fight the boi??” ahahaha….

Luv u gurl!

^^

Ps. Don’t let ‘them’ hurt us…

Thursday, 17 July 2008

Hotel Rwanda

Dari awal aku telah merencanakan untuk mengisi kekosongan liburan dengan menonton lusinan DVD yang aku pinjam dari kerabat-kerabat tersayang. Namun karena masih senang melancong di Medan akhirnya DVD-DVD tersebut (jangan tanya original atau bajakan) aku abaikan saja untuk sementara waktu. Nah, karena belakangan ini aku udah kecapaian berpergian dan cukup muak juga untuk baca buku akhirnya berguna jugalah DVD tersebut sebagai intermezo kegiatan liburanku. Dari sejumlah DVD tersebut aku sudah menonton hampir semua film yang berbau romantis, jadi aku berpikir untuk kembali ke dunia HI dan menonton film yang agak berbau politik internasional. Jadilah aku memilih untuk menonton film Hotel Rwanda. Film ini dibintangi oleh Don Cheadle, Sophie Okonedo, dan Nick Nolte dan diproduksi pada tahun 2004. Film ini bercerita tentang bagaimana seorang manager hotel bernama Paul Rusesabagina dengan tulus memberikan hotel bintang lima-nya yang bernama Hôtel des Mille Collines menjadi tempat penampungan sementara bagi sekitar 1350 orang selama kerusuhan antara suku Tutsi dan Hutu di Rwanda. Diawal film aku pikir film ini akan penuh dengan intrik-intrik politik yang akan membuatku ngantuk. Ternyata enggak, film ini memuat banyak nilai kemanusian dan HAM. Menurutku film ini cukup sesuai dengan cluster HI yang akan kupilih nantinya ‘Masyarakat Transnasional’ karena film ini memuat cukup kuat tentang individual identity. Dipertengahan film aku sempat menitikkan air mata sewaktu si Madam yang berkerja di Palang Merah bercerita bagaimana seorang bocah yatim piatu Tutsi dibunuh oleh tentara Hutu. Kira-kira si bocah itu bilang begini ke Madam “Please don’t let them kill me, I promise I won’t be Tutsi again.” Ironis waktu si wartawan asing menanyakan suku kepada dua orang gadis yang sedang duduk di bar hotel karena sebenarnya dari fisik keduanya tidak bisa terbedakan (mungkin dari nama terbedakan). Kemudian si wartawan bilang “They could be twice.”, sangkin gak bisa bedakannya mana Tutsi dan Hutu. Yang aku tangkap dari film tersebut disebutkan disitu bahwa pada awalnya kaum kolonialis Belgia yang pernah menjajah daerah Rwanda lah pertama sekali yang membagi antara suku Tutsi dan Hutu. Si Tutsi adalah orang yang hidungnya lebih bagus dan memiliki perawakan elegan, mereka adalah kaum minoriti. Mereka dipercaya oleh kolonialis Belgia untuk mengusahakan administrasi di wilayah jajahannya pada saat itu. Semenata suku Hutu adalah orang-orang dengan perwakan lebih hitam dan hidung yang besar. Mereka yang kaum mayoritas diabaikan dan dijadikan sebagai pekerja kasar. Nah, selepas dari jajahan Belgia, maka kaum Hutu ingin melakukan pembalasan kepada kaum Tutsi karena selama ini mereka hidup dalam penderitaan. Pembalasan tersebut terwujud oleh semangat nyata dari para pemimpin militer Hutu. Situasi semakin memburuk ketika Presiden Rwanda saat itu terbunuh diatas pesawat yang tertembak pada saat hendak mengadakan kesekepakan perdamaian. Sementara itu sebagian dunia luar (terutama Barat) tutup mata dan tidak ingin ikut campur dengan permasalahan ini. Aku belum mencari informasi lebih lanjut kenapa sikap negara Barat seperti itu, namun analisis sementaraku menyimpulkan bahwa pihak Barat tidak melihat adanya intrest di Rwanda. Maka akhirnya terjadilah genocide besar-besaran di Rwanda yang meskipun tidak ada sensus resmi dari pemerintah Rwanda, namun diperkirakan memakan korban meninggal lebih dari 1.000.000 jiwa.

Kalau aku bandingkan dengan kasus genocide dan pelanggaran HAM berat yang lain, menurutku sebenarnya konflik di Rwanda ini tidak begitu pelik, hanya menyangkut kepentingan antara dua suku, kepentingan politik segelintir pemimpin militer dan kepentingan ekonomi mengingat Rwanda tergolong negara dunia ke-3. Secara keseluhan menurutku konflik di negara-negara eks Yugoslavia seperti Serbia dan Bosnia lebih pelik karena menyangkut perselisahan beberapa agama, suku, dan kepentingan negara-negara powerful. Pada akhirnya aku bisa bilang kalo cerita di film ini bagus banget. Banyak nilai-nilai yang bisa kamu serap dari film ini. I recommend u to watch it!

Sunday, 13 July 2008

My Happy Wedding (come to me rite now!)


Sudah beberapa hari ini diriku menetap di dalam rumah. Untungnya diriku terselamatkan (sebelumnya terancam mati karena mengidap kebosanan akut) dengan datangnya tukang Telkom yang memasangkan Speedy dan langsung connect di rumah. Kurasa ini ide cemerlang Dad setelah anak perempuannya ini semenjak balik dari Depok tidak pernah tinggal bareng sejenak di rumah. Daan lebih kualatnya lagi menghancurkan mobil kesayangan satu-satunya dengan menabrakkannya ke pembatas jalan sepekan yang lalu. Nah, dengan lancarnya internet di rumah, jadilah aku menjadi si Miss Beauty Online. Cihuy! Meskipun begitu, masih ada yang kurang afdol karena sudah hampir dua minggu gak ketemu sama Mom. Ya, Mom lagi di Brastagi, my lovely hometown itu loh yang jaraknya kurang lebih 50 km dari Medan. Karena BT Mom gak datang-datang ke Medan aku pun tadi berinisiatif menghubungi Mom. Pembicaraan pun berlanjut seperti ibu-ibu arisan. Lama ngobrol dengan Mom pikiranku terbuka juga, ternyata anak-anak Mom semuanya udah dewasa ya? Adek yang perasaan masih SD ternyata sekarang udah SMA. Gak terasa juga kalau Abang semester depan udah bisa wisuda. Padahal sepertinya baru aja kemaren aku jenguk dia ke Depok, waktu pertama kali dia mutuskan untuk pindah jurusan dari Tehnik Metalurgi UI ke Akuntasi UI. Dibalik itu semua sesungguhnya yang paling tidak kusadari adalah aku yang beranjak dewasa. Pembicaraanku tadi dengan Mom sungguh membuatku merenung.

Uliph: “Mak, Uliph Desember depan gak balik ya? Pengen di sana aja, rencananya sih mau jalan-jalan ke Lombok.”

Mom: “Mau jalan-jalan lagi? Ya gak apa-apa lah kalau kam bisa pakai gaji sendiri…”

Uliph: “Lagian kan Febuary tahun depan Abang wisuda, Mamak datang ke Depok kan?”

Mom: “Iyalah.”

Uliph: “Habisnya Mamak kan punya sifat malas pigi-pigi (sebahagian percakapan dilakukan dengan bahasa Karo). Gak terasa juga ya Mak, tahun depan Abang wisuda, dua tahun lagi (insya Kristus) Uliph wisuda. Habis itu Uliph ngapain ya? Menikah aja mungkin ya Mak (dengan nada benar-benar bercanda)

Mom: (Dengan nada antusias tingkat tinggi) Ih, Mamak setuju skali. Katanya cewek itu gak boleh menikah lama-lama. Gak boleh diatas 24, karena kalau udah diatas 24 bawaannya pengen 25, kalau udah 25 bawaannya pengen 26…. Blablabla……

Uliph: (Berteriak dalam hati: OMG, I’m not serious at all!)

“Mamak serius?”

Mom: “Iyalah serius. Emang kam udah punya teman sekarang?”

Uliph: “Eeeee…” (speechless)

Mom: “Maksud Mamak yang serius.”

Uliph: “Eeee…..” (Masih speechless, dalam hati berpikir ‘Mom, I’m still 19th!!!’)

“Aaah, Mamak bilang gitu sebenarnya pengen cepat-cepat punya cucu ya?” (berusaha mengalihkan pembicaraan tapi spertinya salah ngomong)

Mom: “IYA! (Dengan nada lebih antusias) Maksudnya sekalian biar Mamak punya tempat singgah kalau udah tua.

Uliph: (Dalam hati berpikir tentang rencananya ngambil S2 di Prancis dan rencana keliling dunianya. Kemudian membayangkan hal itu dilakukan sambil membawa BABY?? OH NO!!!)

Uliph: “Ehehehe…” (tertawa garink)

“Mak, kenapa gak Bang Donny dulu aja? Katanya kan gak boleh langkahin yang lebih tua.” (Upaya ingin melepaskan diri)

Mom: “Ah, kalau Abang itu kayaknya masih lama. Kam aja dulu, kam kan cewek.”

Uliph: “U…u….u”

Pip….. (Oh, saved by the Piip). Entah kenapa tiba-tiba pembicaraan terputus di tengah-tengah. Kemungkinan terbesarnya adalah Mom kehabisan pulsa menelpon Uliph.

Lepas dari pembicaan tersebut aku gak habis pikir dengan apa yang dikatakan Mom barusan. Rasanya umurku yang segini aku belum memikirkan apa-apa tentang pernikahan. Happy Wedding? Ya mungkin aku pernah aja membayangkan kira-kira gimana upacara pernikahan yang aku dambakan: Menikah di suatu perkebunan Anggur di New Zealand dengan seseorang yang sangat kucintai meskipun mungkin saat ini aku belum pernah melihatnya (seperti lagu MLTR: I know I Love U before I meet U). Saat itu aku akan mengenakan gaun pernikahan kembang berwarna putih yang panjang terseret-seret dengan punggung sedikit terbuka. Usai pemberkatan aku tidak akan pergi dengan Dia menggunakan mobil mewah yang diarak tapi aku akan berkejaran dengan Dia sambil menunggang kuda Putih dan Coklat. Taman-temanku tertawa dibelakangku melihat pesta yang indah itu penuh dengan kertas-kertas pesta kebahagiaan. Haia, STOP IT LIPH! Nganyal banget! But I think it’s still OK Cozz ……

If you can imagine it…

You can achive it

If you can dream it…

You can become it!

Friday, 11 July 2008

All day long at room

Akhirnya aku tepar juga di rumah! Haduh, badanku pegal banget dan rasanya susah digerakkan. Malas makan juga, kayaknya masuk angin deh. Tadi aja waktu makan siang bareng Dad, aku menghabiskan seluruh nasi di piring setelah satu jam duduk di meja makan, Akhirnya aku memutuskan untuk tidur-tiduran di kamar, OL YM sambil dengarin lagu Intan yang baru “Gubrak”. Lagu ini ku dedikasikan untuk seseorang yang aku kenal beberapa hari yang lalu (di hari yang sama dengan accident tabrakan mobil yang menimpaku). Untuk seseorang yang bernama sama dengan nama Abangku, perhatikan deh lirik lagunya…

“Jadi cowok janganlah sok ganteng,

Wajah pas-pasan, gak ada uang,

Bikin aku jadinya GUBBRAAK!


Cepatlah tobat, lekas berkaca,

Wajahmu gak ganteng-ganteng amat

Kalau kau tetap merasa hebat,

Nanti aku jadinya GUBBRAAK!”



Aku tidak terlalu mempersoalkan keberadaannya juga sebenarnya, cuma teringat aja waktu dengar lagu Intan ini. Peace yow! Hm… belakangan banyak juga ya lagu yang blak-blakan kayak gitu. Easy listening, but I like it.

Coz I don’t have many things to write so I wanna have day sleep wif Mr.Teddy Bear.





Wednesday, 9 July 2008

Jalan jalan dan jalan (lagi??)




Hi there! Ini minggu ke-dua ku di Medan dan sampai sekarang ini aku merasa belum melakukan sedikitpun kegiatan yang produktif. Barusan aku pulang dari salah satu tempat wisata yang baru di bangun di kampung kelahiran ibundakuSibolangit’. Gak nyangka tempat yang sekampung itu bisa di sulap menjadi tempat wisata yang lux dan elegan (plus dengan harga tiket masuk yang disesuaikan dengan kondisi tersebut juga). Nama tempat wisatanya Greenhill yakni wisata permainan yang seperti Dufan mini. Bahkan jenis permainan yang ditawarkan pun tidak jauh berbeda dengan Dufan. Letak perbedaannya, di Greenhill pengunjung akan di suguhi dengan pemanandangan ala pegunungan yang sejuk dan asri. Sementara di Dufan, seperti yang telah kita tahu sendiri wahana dikelilingi oleh suasana pantai yang hangat. Perjalanan di sana kulakukan bersama dengan teman seperjalanan tim Baliku (Pebi dan Ema) dimana Pebi yang seorang penyiar Star FM (the nomor one hits in Medan) mengajak rombongan teman penyiarnya. Pembicaraan selama perjalanan di isi dengan guyonan-guyonan lucu ala penyiar gaul Medan. Overall aku mendapat kesan kalau mereka itu orang yang ramah dan perhatian (seperti orang Medan pada umumnya). Aku senang bisa jalan dengan mereka, karena selain menambah koleksi temanku juga menambah pengetahuanku tentang dunia penyiaran radio. Jujur sebenarnya aku tidak begitu menikmati semua jenis permainan yang ada di sana tadi (kecuali permainan sejenis roller coaster-nya), karena menurutku tempat wisata permainan tidak jauh beda dimana-mana. Malah kepalku terasa sedikit sakit dan perutku mual, mungkin karena perjalanan ke sana yang melalui jalan yang berkelok-kelok dan menanjak. Biaya yang kuhabiskan menurutku tidak sesuai dengan apa yang kudapat disana. Hal ini terkait dengan watakku yang pada dasarnya tidak suka hura-hura di tempat yang ramai. Pada akhir perjalanan, tepatnya sewaktu rombongan kami sedang menghabiskan santapan malam di Jl. Dr. Mansur (salah satu jalan di Medan yang mana banyak toko penjaja makanan berjejer disana), aku memutuskan untuk menuntaskan misi Jalan-jalanku di Medan dan kembali ke misi utama saat dari Depok memutuskan balik ke Medan yakni menyelesaikan novel baruku. Kalau dipikir-pikir, selama di sini aku udah reuni sama teman SD, SMP dan SMA. That’s enough Liph! Let’s do other things that useful for us. Fight Gurl!

Sunday, 6 July 2008

Mau apa kelak?

Sebelum tiba di Medan, aku sudah merencanakan untuk membeli keperluan sandang di sana. Namun setelah aku membandingkan harga pakaian, celana dan sepatu di sini, ternyata lebih mahal dari pada yang di Jakarta atau Bandung. Mungkin itu sebabnya orang-orang di Medan kerap berlbur ke pulau Jawa dan pulang dengan membawa borongan belanjaan. Omong-omong soal perbandingan, barusan aku mendapati betapa kentalnya logat Melayu dan betapa petaknya wajah-wajah orang Batak yang di Medan. Ternyata signifikan juga ya dua tahun keberadaanku di Depok. Menurutku sekarang aku lebih bisa melihat dunia secara luas daripada waktu aku masih SMA di Medan. Aku bagai keluar dari cangkang. Kemaren waktu liburan seminggu di Bali, aku juga agak terkejut dengan kekhasan budaya di sana, butuh beberapa saat untuk terbiasa mendengar logat bali yang unique (yang katanya berbicara seperti lidah sedah terselip). Indonesia memang kaya akan budaya. Selagi aku muda dan masih membara, rasanya ingin berjalan menelusuri bagian terindah dari Indonesia. Tapi aku sedikit prihatin juga dengan kondisi badanku -yang dari luar sepertinya berstamina prima tapi ternyata lemah juga-. Pasalnya misi traveling sebulanku kemaren (Bali-Bandung-Jakarta-Bogor-Medan) mengantarkan beberapa penyakit kecil yang mengganggu karena teridap secara berbarengan:

  1. Flu ringan
  2. Sakit perut hingga harus berulang kali ke kamar mandi selama beberapa hari
  3. Telinga berdenging (kerena kemasukan air laut)



Hmm… barusan tadi aku bertemu dengan seseorang yang sudah lama ku kenal. Katanya dia sekarang sedang menganggur dan menunggu pekerjaan. Kemudian tadi di gereja juga cukup banyak orang yang minta di doakan supaya dapat jodoh, dapat kerjaan atau yang masih sekolah supaya dapat ranking bagus. Kalau kupikir-pikir lagi, siklus hidup dan masalah terbesar orang di Indonesia (khususnya) itu-itu saja ya?

Balita -> Sekolah -> Kuliah -> Kerja -> Menikah -> Punya Keturunan -> Sakit -> Meninggal

Dalam anganku, aku berpikir untuk menjelajahi dunia sebelum akhirnya kembali lagi ke kampong halamanku, agar hidupku lebih terasa. Dan saat aku kembali nantinya, aku harap aku dapat hidup tenang dengan tetap memiliki banyak sahabat yang sesekali menghubungiku dan menceritakan pengalaman indah yang pernah kami alami sebelumnya. Traveling the world? Maybe it’s fun…. Hopefully, I can make it!

Saturday, 5 July 2008

The Worst Day I Ever Had

Kata pertama yang bisa kuucapkan saat menulis blog edisi Juli pertama adalah: Huhuhuhu (tangisan yang bukan berarti sebuah kata)

Aku sedih menyesal tidak karuan setelah sebuah bencana semalam menimpa diriku. Jadi gini awal benget dari ceritanya, pulang dari Bali kemaren, entah kenapa aku jadi homesick dan pengen pulang kampong secepatnya. Sebelum berangkat ke Bandung, aku buru-buru memesan tiket pesawat yang terbangnya direncanakan seminggu kemudian. Ternyata tindakanku untuk memesan tiket pesawat secepatnya itu salah, karena perasaan homesickku itu cepat pudar setelah beberapa hari menginap dengan murid-murid bimbel yang aku ajarin (yang sedang hectic belajar menjelang SNMPTN). Malahan acaraku pulang mendadak itu kacau karena aku masih meninggalkan pekerjaan yang belum tuntas di sana:

a. Proyek Summer School dari kantorku (international Office UI)
b. Oroyek Community Development dari BEM UI untuk mengajar anak-anak kurang mampu
c. Meninggalkan kelas mengajar private bahasa Indonesia dengan Sayuri-san sebelum dia berangkat ke Jogja
d. Dan yang paling tidak aku tega adalah meninggalkan murid-murid bimbel sebelum SNMPTN (tanpa sempat melihat perjuangan mereka yang mengharukan itu) huhuhu…

Begitu sampai di Medan, aku merasakan perasaan yang sedih seperti aku meninggalkan hatiku di Depok. Sama seperti aku balk dari Bali ke Jakarta, aku juga merasakan perasaan yang sedih seolah aku meninggalkan hatiku di Bali. Hah.. . sebenarnya hatiku dimana c ya?
And then, untuk meninggalkan perasaan sedihku itu maka aku mengalihkan misi pulang kampungku dari “Being a great novelist: menyelesaikan novel baruku” menjadi “hanging out sepuasnya wif friend”. Selama beberapa hari ini sepulang dari Depok, aku bahkan hampir tidak punya waktu di rumah. Rumah bagaikan tempat untuk tidur saja.

Kemudian suatu hari (maksudnya kemaren), dua teman seperjalananku dari Bali menghubungiku dan mengajakku jalan ke salah satu Plaza terbesar di Medan. Akhirnya aku berangkat sendiri tanpa membawa adek. Acara flirting dan YM-an yang sedang digalak-galakkan oleh salah satu provider cellular di food court plaza tersebut memang sangat sejalan dengan program yang sedang dilaksanakan oleh diriku dan teman-temanku. Tapi…. masalah kemudian muncul, rencana makan malam bareng pun batal karena tiba-tiba di tengah jalan aku MENABRAKKAN mobilku ke pembatas jalan sampai RADIATORNYA BUMMM! HANCUR! Tabrakannya parah! Aku terkejut hebat. Temanku masih jauh di belakang. Dengan tangan sedikit gemetar aku mencoba mengambil ponsel dan menghubungi temanku lalu berbicara dengan sok tenang.

Uliph: “Peb, dimana? Aku kecelakaan, parah, cepat ke sini sekarang.”

Pebi: “Hah? Dimana??” (terdengar lebih panik)

Uliph: “ Di dekat Vigo, di dekat The Traders.”

Pebi: “Iya, iya aku ke sana sekarang.” (buru-buru menutup)

Orang-orang mulai ramai berkerubun mengitari diriku dan mobilku. Mobilnya gak bisa digerakkan dari lokasi tabrakan. Mobilnya mogok. Kucoba mematikan dan menstrater ulang. Yap, bisa. Kemudian aku memarkirkan mobilnya ke tepi. Air menetes deras dari depan mobil. Itu air apa? Aku bingung, aku gak tau soal tukang menukang mobil. Sekarang udah malam dan gelap, aku jadi panic tapi berusaha tetap tenang. Untungnya tidak berapa lama kemudian temanku datang menyusul. Reaksi pertama mereka: syok dan melotot. Reaksi kedua membuka ponsel dan mencari contact list cowok yang bisa diandalkan. Orang-orang di sekitar situ cuma melihat dan tidak membantu banyak. Akhirnya kami bertiga dengan alis berkerut berjalan mengilingi mobil tanpa arah yang jelas sambil mengobrol dengan siapa saja teman cowok yang bisa membantu (oya kami bertiga cewek dan tidak tahu menahu soal otomotif).

Pebi: “Iya Bang, Radiatornya pecah, cadangan yang harus di bukak yang mana tabungnya? Apa? Abang gak pernah megang Jazz? “ Sambil membuka kap mobil.

Uliph: “Paulll…. Jangan paksa aku buka tabungnya entar katanya nyembur airnya.”
Paul: “Lip, lip dengar ya? Tenang aja kau bukaknya. Kan mobilnya udah gak panas lagi, airnya udah menetes semua kan?

Sementar Ema sibuk mencoba menelpon dan mengsms teman-teman yang masih tersisa di Medan.
Desperado karena semua cowok yang dikenal tidak bisa datang atau baru bisa datang minimal sejam lagi (karena lokasi kejadian yang jauh dari lokasi mereka), akhirnya aku menghubungi Dad dan siap-siap untuk dimarahi.

Dad: “Pokonya bawa mobilnya ke rumah sekarang. Bapak lagi di Simalingkar dan ban motor juga lagi pecah.”

Aku stress karena tidak berani memasukkan air ke dalam tabung yang entah yang mana. Kami semua terdiam dan melamunkan mobil itu. Sementara wajah-wajah orang yang seliweran terlihat begitu menyeramkan seolah ingin mencari kesempatan dalam kesempitan. Beberapa orang meminta supaya mobilnya dimundurkan dan tidak menghalangi jalan. Tiba-tiba Dad menelpon lagi dan dengan nada yang lebih tenang berkata kalau ia datang ke sana sekarang. Menunggu Dad datang, orang-orang menelpon.

Paul: Liph, gimana? Kalau gak pakai mobil derek aja, ini nomornya. Kau gak apa-apa?”

B’ x: “Peb, gimana mobilnya. Udah diperiksa radiotarnya? Jangan dipaksa dijalankan. Abang udah bisa ke sana sekarang.”

Donny: “Ema, tunggu ya Donny datang sekarang.”

Akhirnya bala bantuan pun datang dari Dad. Dengan wajah yang masem dan hampir nangis aku
diantar pulang naik motor dengan Dad. Mobil dititip di tempat pengisian bensin dekat dengan TKP. Dad gak membentak atau marah, hanya menunjukkan kekecewaan yang bisa buat aku nangis. Begitu sampai rumah aku langsung tidur dan merebahkan badan di tempat tidur. Adekku heran karena aku pulang tanpa membawa mobil. Sms pun berdatangan…

From Pebi: Lip, jangan sedih lagi ya? Pelajaran supaya lain kali jangan ceroboh. Kalau sedih, ingat aja tetangga kita yang di Bali itu…(gak perlu di ceritakan di sini, he3)
From Ry: Yang sabar ya Lip…
From Paul: Yauda la, byasa ny tu uliph.. bosmu kan mrh bkn krn mobil ny itu.. tp krn kw. . cemas ny mrka sm kw, cb kl npa2kw td?! .. syukur la gpp.. say thx la kw ma om Jes! Laen x hati2 la, jgn ceroboh!

Besok paginya aku bangun masih dengan wajah sedih terbayang kejadian kemaren. Jadi gak mood pergi fitness karena gak ada kendaraan. Apalagi setelah Mom menelepon dan memberi ceramah ini-itu. Akhirnya aku memutuskan OL dirumah aja.
YM From Ema: Jangan sedih ya, makanya jangan ceroboh lagi.
Sembari sarapan, Dad menanyakan padaku kejadian kemaren. Aku bilang seadanya kalau aku ngebut dan ingin nyalib mobil lain, terus karena udah lama gak ke Medan jadi gak tahu ada pembatas yang baru di jalan itu. Kalau dipikir-pikir kenapa aku bisa nabrak adalah:

1. Udah malam dan aku rada-rada rabun senja
2. Aku ngebut dan gak sabaran bawa mobil
3. Pembatas jalan baru itu gak pakek lampu

Kemudian Dad yang baru saja ngantar mobil tersayangku itu ke bengkel bilang kalau orang-orang di sekitar tersebut tadi bercerita bahwa di TKP tersebut memang sudah sering banyak kejadian, bahkan sampai yang merengut nyawa juga. Aku terkejut waktu Dad bilang gitu, syukur juga ya kalau aku tidak apa-apa. Adekku menyambung pembicaraan:

Ela: “Liph, mungkin kau dapat kecelakan karena akhir-akhir ini udah jauh dari Tuhan, bandel kali…”
Setelah kurenung-renungkan, benar juga ya? Segala tindak lakuku akhir-akhir ini terlalu duniawi dan selfish. Paul berkata benar kalau aku seharusnya bersyukur gak apa-apa, walaupun biaya perbaikan mobil mungkin menghabiskan budget hingga 10 juta. Dad, maaf ya? Aku janji akan bertobat, mengurangi kecerobahan dan mendekatkan diri pada Tuhan. Misi pulang kampong pun diluruskan kembali dengan adanya kejadian ini. New Mission: Being a good home girl.

(Mobil Jazz biruku yang keren, T_T )