You Are At The Archives for November 2008

Tuesday, 11 November 2008 in

Kebocoran Utopisme ala Stukturalis

Pembuka:

Hm… beberapa hari yang lalu, setelah aku baca-baca lagi semua artikel yang pernah aku publikasikan di blog pribadiku, aku tiba-tiba menyeletuk ‘Loh kenapa gak ada unsur HI-HI nya ya?’. Aku merasa cukup aneh karena hingga sekarang aku seolah-olah tidak tenggelam dalam pemikiran-pemikiran HI, sementara aku sudah dua tahun menyandang status sebagai mahasiswa HI. Tapi kan bukan salahku juga kalau ternyata ada bagian dalam diriku yang lebih senang membaca novel sastra dibandingkan membaca jurnal HI dan koran. Mungkin itu sebabnya artikel-artikelku lebih terlihat seperti tulisan anak Komunikasi (peace yow! tanpa maksud apa-apa lho). Setelah melakukan kontemplasi, aku akhirnya sadar bahwa aku harus lebih dekat dalam setiap subjek yang selama ini di dengung-dengungkan oleh dosen-dosenku. Berikut adalah artikel semi ilmiah pertamaku di blog.

Utopis. Sebenarnya kata itu baru benar-benar saya mengerti setelah mengikuti pelajaran Pengatar Ilmu Politik (PIP) di kampus FISIP UI. Dikatakan bahwa mimpi penganut Sosialis-Komunis untuk membuat masyarakat tanpa kelas pada dasarnya adalah Utopis alias tidak mungkin terjadi. Setelah saya pikir-pikir, mungkin penyebarluasan utopisme komunisme di dunia akademis sekarang tidak lain hanya untuk semakin meningkatkan dominasi pemikiran liberalis (yang sekarang berkembang menjadi neo-liberalis) yang terutama di sebarkan oleh AS setelah berakhirnya Perang Dingin seiring dengan runtuhnya Uni-Soviet. Kemudian paham liberalisme yang mengusung nilai-nilai demokrasi, kebebasan individu, keuntungan maksimal dalam ekonomi, dll pada akhirnya diterima oleh hampir semua negara serta individunya. Fenomena inilah yang kemudian ditilik oleh Francis Fukuyama dalam bukunya “The End of History” dimana ia menyatakan bahwa pada akhirnya setiap individu di dunia akan bergerak pada identitas yang sama (serta digerakkan oleh nilai-nilai yang ada didalamnya) yakni nilai liberalis. Melihat fenomena dominasi tersebut, Thomas L. Friedman dalam bukunya “The World is Flat” sampai-sampai berasumsi bahwa AS (sebagai pembawa jalan liberalis utama) adalah model negara yang seharusnya dijadikan contoh oleh negara-negara lain agar dapat hidup sejahtera.

Ternyata beberapa hari yang lalu, ketika saya sedang belajar mata kuliah Ekonomi Politik Internasional (Ekopolint) dengan teman-teman HI yang lain saya menemukan sesuatu yang unik tentang keutopisan komunis. Pada saat membahas tentang pemikiran struktrualisme yang dapat menantang pemikiran Neo-liberalisme, saya akhirnya menemukan kebocoran utopisme komunis lewat analisa strukturalis (dalam tataran ekonomi). Sebelumnya ada baiknya bila saya akan membahas dulu tentang pemikiran stukturalis tersebut. Pandangan strukturalis adalah pandangan yang unik karena melahirkan tantangan untuk dapat melihat analisa kritis dari hubungan negara berkembang dan negara maju. Selain itu, strukturalis dapat memberikan kritik moral seperti inequality. Lebih lagi, strukturalis juga bisa melihat struktur bottom line society (menganalisa kondisi masyarakat) dan melihat krisis yg terjadi di tataran dunia / global.

Fondasi dasar dari pemikiran strukturalis dibangun oleh Marx and Lenin dengan dua asumsi dasar:

· A Asumsi dasar #1: Bahwa struktur mengkondisikan outcome atau hasil. Sebagai contoh: Marx melihat national economy dipandang secara national (dimana ada kelas) dan Lenin melihat dalam skala lebih global seperti bentuk imperialisme (negara yang menjajah negara lain).

· A Asumsi dasar #2: Struktur adalah international dan national economy. Jika dibandingkan, maka bentuk class ada dalam tataran dalam negeri dan global political economy dalam ataran luar negeri.

Gbr 1. Lenin

Gbr 2. Karl Marx

Menurut Karl Marx, salah satu pemikir strukturalis tersohor, bentuk stage menuju komunisme murni adalah sebagai berikut: komunisme primitif à perbudakan à feodal à kapitalis à sosialis à komunisme murni. Namun demikian, komunisme murni itu hingga sekarang dianggap utopis, dengan kata lain kondisi yang tidak akan pernah tercapai oleh para penganut paham liberalism yang menjujung tinggi bentuk-bentuk kapitalisme dan sejenisnya. Hal ini didukung dengan kejayaan kapitalisme yang tidak pernah habis dengan segala evolusinya. Sebelum saya menjelaskan lebih lanjut mengenai keberadaan kapitalisme, ada baiknya saya menjelaskan terlebih dahulu pemikiran Marx. Adalah Marx yang pertama sekali mencetuskan pemikiran tentang perjuangan antara kelas. Aspek utama pemikiran Marx adalah power yang berasal dari properti atau kepemilikan (yang nantinya akan menciptakan inevitable possession of capitalism). Marx melihat hubungan antar manusia sebagai dinamika antara kaum borjuis dan proletar dimana proletar akan selalu dieksploitasi oleh borjuis. Kemudian diantara hubungan tersebut, ada pula aktor yg memiliki sumber daya yg nantinya akan menentukan output dari sumber daya. Bila terdapat imbalance (ketidakseimbangan) atas kepemilikan sumber daya maka pada akhirnya akan lebih berat pada kaum borjuis. Kemudian hubungan tidak seimbang ini akan mengakibatkan sebuah revolusi. Intinya, Marx berpendapat bahwa kapitalisme akan menjadi bumerang bagi sistemnya sendiri. Maksudnya disini, kapitalisme hanya menggali kuburnya sendiri karena akan mati akibat pembentukan segregasi borju dan proletar hanya akan menciptakan pemberontakan yg mematikan kapitalisme

Marx melihat bahwa pada saat kapitalisme membreakdown (menggantikan) slavery dan feodalisme, ia juga sedang membentuk masyarakat yg social development-nya lebih tinggi (naik level jadi lebih ‘beradab’). Marx menguraikan 3 mode of production yg nantinya akan dapat menjadi krisis kapitalisme:

1. Law of falling rate of profit: yakni profit identik dengan surplus value yg bisa dicapai dengan dua cara (national resources dan labor). Digunakanlah teknologi agar lebih efisien, tapi pada akhirnya hanya akan menurunkan profit karena ketidakadaan tenaga kerja.

2. Law of concentration or accumulation of capital yakni inequality dari distribusi kekayaan dan distribusi pendapatan. Karena ingin bersaing ekonomi secara lebih efisien maka si kaum proletar mengeksploitasi yg miskin ( dimana harganya lebih rendah daripada mesin-mesin), sehingga distribusi kekayaan mengalir ke kaum borju lagi atau ke pemilik modalnya.

3. Law of disproportionality under consumption: karena sudah terdapat efisiensi, maka wages labor menjadi lebih rendah. Hasil produksi banyak namun labor tidak dapat mengkonsumsi karena wagesnya rendah sehingga mereka tidak bisa belanja. Pada akhirnya hal itu menghasilkan fluktuasi hebat dan memicu dinamika sosial yg akhirnya menciptakan revolusioner.

Pada dasarnya ketiga mode produksi diatas sesuai dengan pemikiran Adam Smith yakni bahwa individu bersifat rasional. Namun Marx mengungkapkan bahwa ketika individu menjadi kolektif maka keseluruhannya berubah menjadi tidak rasional dan akhirnya krisis pun terjadi. Pada kenyataannya krisis yang diharapkan dapat menghancurkan keberedaan kapitalisme dan menghantarkan ke dalam sistem ekonomi yang lebih tinggi yakni komunisme murni tidak pernah terjadi (utopis). Hal ini karena Marx masih berteori dalam skala nasional. Lenin akhirnya berhasil menemukan bahwa krisis bisa tidak terjadi karena terjadinya ekspansif melewati batas negara dimana negara dan borju yang intertwined mengambil sumber daya lain yang lebih banyak daripada di skal nasional. Pada akhirnya mereka bisa menghambat aga krisis lebih lama terjadi. Intinya imperialisme menjadi satu-satunya alat untuk mempertahankan kapitalisme. Lenin menambahkan bahwa munculnya neo-kolonialisme sekarang (bentuk baru kolonialisme) hanya bersifat ekonomi karena sudah tidak dapat lagi subjugasi dalam politik (dimana eksploitasi manusia sekarang ini sudah tidak lagi terjadi).

Lenin kemudian menjelaskan bagaimana kapitalisme dapat shifted dari national ke internasional. Fase ini disebut fase imperial yakni fase dimana kaum borjuis tidak ingin memberi jatah ke proletar sekaligus untuk menjegah teradinya krisis yakni dengan cara menyebar perekonomian ke tingkat internasional. Lenin melihat penyebaran imperial kapitalisme terjadi melalui dua struktur yakni structure of production dan structure of finance dimana kedua stuktur ini akan menghasilkan sistem dependensi dan eksploitasi. Didalam structure of production, negara-negara borjuis akan memonopoli barang-barang dan pasar, sementara dalam structure of finance negara-negara borjuis -atau bisa disebut juga negara core oleh Wallerstein- akan memonopoli lewat bank-bank monopolistis. Hal yang bisa dilakukan oleh negara proletar -atau bisa disebut juga negara periperi oleh Wallerstein- untuk menghentikan kapitalisme dan imperalisme tiada akhir (yang kini berubah wajah menjadi bentuk neo-kapitalisme dan neo-imperialisme) adalah dengan menepiskan dependecy theory yang mana berpendapat bahwa suatu negara periperi tidak bisa berubah menjadi core karena ada mekanisme kapitalisme dan karena besarnya ketergantungan dari negara periperi ke negara core. Caranya ialah dengan melakukan proteksionisme untuk dapat mengubah world system. Meskipun pada keseluruhannya hal ini tidak akan membantu development negara banyak, namun setidaknya dapat adalah memaksimalkan kesejahteraan rakyat di negara peri-peri sebab mengurangi ketergantungan impor dan memberi kesempatan produk lokal. Apabila setiap negara peri-peri (yang tidak lain adalah negara-negara dunia ke-3 termaksud Indonesia) bersama-sama melakukan proteksi terhadap negara core (yakni negara-negara maju seperti AS dan EU) maka krisis dipastikan akan terjadi sehingga revolusi tersebut mengantarkan dunia dalam sistem komunis murni yang selama ratusan tahun diimpikan oleh para sosialisme sejati. Namun bilakah negara-negara periperi dapat melakukan proteksi terhadap negaranya dalam dunia yang terglobalisasi yang membuat tiap individu di negara tidak dapat lagi membedakan antara space (abstrak) dan place (real). Bukankah itu artinya kita kembali lagi menjadi mengkhayalkan kemungkinan yang utopis?

Monday, August 25, 2008 6:54 PM

in , ,

Tunangan? Hm…


Semuanya pasti sering dengar kata tunangan kan? Tunangan, kata-kata itu terdengar begitu manis ya? Apalagi kata bahasa Inggrisnya, fiancee. Tapi setelah ada pengalaman dengan kata tersebut setahun yang lalu, bagiku sekarang sama sekali gak manis.

Setahun yang lalu, sebelum aku berangkat kembali ke Depok. Tiba-tiba saja Dad bilang begini…

“Anakku, gimana kalau kami menjodohkan kam?”

Sing………. Seketika itu juga aku terdiam dan memandang Dad lama. Dijodohkan? Plis dong Dad, ini kan bukan zamannya Siti Nurbaya lagi (Theme Song: Dewa 19-Bukan Siti Nurbaya).

“Ehem, kenapa tiba-tiba ngomong kayak gitu Pak?” (Uliph bertanya sambil berpura-pura tenang)

“Gak apa-apa sih. Cuman kemaren waktu ke Simpang Kuala (nama jalan di Medan.red), Bapak dengar kabar ada yang nanyakin kam.”

“Ooh…” (Uliph menanggapi berlagak tenang, tapi sebenarnya sewot juga.)

“Emang yang nanya siapa?” (Bertanya dengan menyembunyikan rasa penasaran)

“Ada anak kade-kade (bahasa Karo kade-kade=saudara). Dia sekarang tinggal di Jakarta, lulusan UGM. Umurnya mungkin 27 tahun. Udah mapan, punya kendaraan sama rumah sendiri.”

“………” (no comment deh, you know kan arti perkataan Dadku di atas apa.)

Awalnya aku pikir ini cuma rencana iseng-isengan aja. Tahu lah, suku Karo itu memang senang banget menjalin silaturahmi dengan sesama saudara. Mungkin rencana perjodohan itu hanya iseng-iseng cari obrolan sesama sodara saja. Eh gak taunya beberpa hari kemudian, aku mendengar pembicaraan Dad tentang perjodohan itu terbawa serius dengan Mom. Aku gak sengaja menguping segelintir percakapan santai Dad dan Mom di ruang keluarga. Petikannya seperti berikut:

Dad: “Jadi gimana menurutndu? Nande si ei nungkuni… (terjemahan: Ibunya si lelaki itu menanyai)”

Mom: “Ah…. Gak usah abang. Ngapain pulak kam campuri urusan jodoh anakndu. Lagian aku gak sukak, bagus cari sendiri aja lah dia pasangan hidupnya.

Uliph: “Uhuk….uhuk” (tiba-tiba saja terbatuk di balik pintu)

Beberapa hari kemudian, kami sekeluarga melakukan kunjungan ke rumah nenekku di Simpang Kuala. Aku pertamanya nyantai-nyantai aja duduk di situ sampai akhirnya obrolan orangtua pun nyambung juga ke soal acara perjodohan itu.

“Jadi kayak mana? Jadinya si Uliph ini mau di jodohkan? Biar kita beli cincin tunangannya.” Kata salah seorang Bibiku. Mataku langsung melotot.

“Nomormu yang mana Uliph? Masih yang ini kan? Biar aku kasi sama Dia (You know lah ‘Dia’ di sini adalah si Bakal Calon Tunanganku itu).” Kata Bibiku yang satu lagi. Aku hanya bisa menganguk-angguk lemah.

“Jadi gimana nakku (nakku= panggilan sayang ala suku Karo.red)? Maunya kam di jodohkan tadi? Udah nanyak-nanyak selalu Mamaknya itu.” cerocos Nenekku. Aku tersenyum kecut.

Dad cuma diam memandangi situasi. Aku juga speechless. Mom lah yang akhirnya melakukan pembelaan (sebenarnya karena Mom mengerti tipeku kayak mana).

Mom: “Udahlah, gak usah kalian urus-urus itu, dia masih mau belajar.” Oh, thank you so much Mom. Baru kali ini aku sangat seide dengan Mom.

Anyway, pembicaraan diatas dilakukan dua hari sebelum aku akhirnya berangkat ke Depok. Begitu sampai di Depok, aku langsung menghilangkan jejak dengan mengganti nomor ponselku. Hingga sekarang aku memang belum pernah dihubungi dengan si Bakal Calon Tunanganku (BCT) itu. Terakhir yang kudengar, rencana perjodohan pun di batalkan karena Mom ngebet gak mau ada campur tangan keluarga terhadap pilihan pasangan hidup putrinya. Usut punya usut, ternyata rencana perjodohanku itu di konsepkan karena alasan kuno: Ceritanya dulu Kakekku yang keturunan bangsawan dermawan memberikan sebagian tanahnya di Gundaling (bagian dari tanah Karo sekaligus tempat wisata yang OK.red) untuk si Kakek BCT ini guna diolah. Sekarang ini, perekonomian keluarga si BCT ini sudah lumayan mapan. Jadi mereka berpikir, bila si BCT ini menikah dengan orang lain maka tanah pemberian tadi akan jatuh sebagian di tangan orang lain. Tapi bila si BCT ini akhirnya menikah dengan salah satu cucu Kakekku (aku lah korbannya karena aku yang paling ideal), maka tanah itu akan kembali lagi ke keluargaku. AIAAAAAA!

Sewaktu aku menceritakan kisah ini ke teman-temanku, mereka semua tertawa. Seperti kisah-kisah sinetron dan telenovela aja, kata mereka. Hingga saat ini, aku masih belum pernah bertemu dengan si BCT itu. Malas juga ah menerka-nerka tampangnya. Tapi beberapa hari yang lalu, sewaktu aku jogging pagi dengan Mom di Brastagi, ada seorang wanita paruh baya menghampiri kami dan mengajak mengobrol sepanjang perjalanan. Belakangan baru ku ketahui bahwa dia adalah Ibu dari si BCT tadi. Hufffff…. Syukurlah tidak ada obrolan yang menyangkut dengan masalah perjodohan selama berjalan dengan si Bibik itu. Yah, zaman gini jangan sampai deh pakai acara perjodohan segala. Apalagi nyangkutnya ke harta! Ugh, gak banget! Tunggu aku jadi ibu diplomat dulu ya, baru aku bisa serius mikirin jodoh. =)

Monday, August 25, 2008 16:36 PM

in ,

Médicament pour Mon Depression

Belakangan ini aku mengalami syndroma depresi ringan. Yah, mungkin bahasanya berlebihan, tapi beginilah kenyataannya. Aku gak tahu mengapa belakangan aku tidak bisa menghasilkan sesuatu hal yang berguna. Dan hanya bisa tergolek di tempat tidur tanpa melakukan sesuatu hal apapun. Perhatian, di sini tergolek bukan berarti aku tidur. Aku bahkan tidak bisa tidur malam. Jadi beberapa hari belakangan, biasanya sehabis pulang kampus atau sehabis kerja, aku hanya melakukan kegiatan standart yakni mandi dan sedikit membersihkan kamar kemudian tergolek di tempat tidur sambil menghayal banyak hal. Sungguh aku benci dengan diriku yang seperti itu, diriku yang tidak produktif. Aku sudah mencoba untuk melakukan banyak hal: mengetik, membaca, membuat program, tapi hasilnya nihil. Akhirnya aku kembali lagi tergolek di tempat tidurku. Untungnya aku tidak mengalami depresi akut dimana sipenderita bahkan tidak dapat lagi bangkit dari tempat tidurnya hingga yang ekstremnya bisa memicu tindakan bunuh diri.

Waktu aku konsultasi dengan PKK-ku (Pembimbing Kelompok Kecil.red), beliau berkata bahwa selama ini aku terlalu memaksa diri. Memaksa diri bagaimana? Aku bahkan tidak melakukan hal yang cukup berarti…

Syukurlah hari ini sepertinya keadaan membaik, meskipun masih ada perasaan enggan, tapi setidaknya aku memiliki willingness untuk mengurus diriku. Jadi tadi pagi aku sempat mengecat kuku tanganku dengan warna hitam. Hm…….. sesuai dengan warna hatiku. Tapi siangnya aku tidur lagi. Aku sempat bingung karena punya tiga acara untuk sore nanti:

  1. Diskusi dan buka puasa bareng anak-anak ISAFIS (Indonesian Student Association for International Studies)
  2. Buka bareng tim Community Development BEM UI
  3. Jalan ke PIM bareng mantan murid-murid bimbelku yang sekarang udah pada kuliah di UI

Wah, pilihan yang sulit, terutama karena ketiga kegiatan itu diselenggarakan bersamaan. Tapi pada akhirnya Tuhanlah yang menuntunku untuk memilih buka bareng anak-anak BEM dan anak-anak kurang beruntung di wilayah terpencil: Leuwinanggung. Em…sebenarnya cuma namanya aja daerah terpencil, tapi tadi kita makan mewah banget lho. Bisa dibilang buka puasa bareng termewah selama aku kuliah di UI. Jadi tadi ada gorengan, pudding, kolak, es buah, teh manis, martabak keju, dll. Lengkap deh! OKs banget pokoknya! (yah walaupun aku gak puasa tapi memanfaatkan moment lah ya, secara pagi dan siang aku cuma makan biscuit n mie instan yang gak bergizi banget!).

You know what? ternyata pilihanku ini tidak salah karena selama dijalan menuju wilayah Leuwinanggung tadi, aku bisa merenungkan banyak hal. Melihat kondisi lingkungan yang terpencil seperti itu, aku seharusnya bisa mensyukuri keadaanku yang sekarang ini. Padahal diangkot yang tadi kami carter bersama untuk berangkat ke TKP, orang-orang dari BEM saling tertawa bercanda, tapi aku tidak peduli, aku tenggelam dalam pikiranku sambil mendengarkan alunan lagu dari i-podku. Sebaliknya, waktu pulang kembali ke Depok, aku tidak lagi memasang i-pod ditelingaku tapi mulai membuka diri dengan pembicaraan mereka. Tahu kenapa? Karena sepertinya aku menikmati saat-saat makan bersama anak-anak kurang beruntung itu tadi. Moment saat hanya aku sendiri orang dewasa yang duduk diantara mereka., membuatku bisa mengamati dengan jelas bagaimana cara mereka menikmati hidangan itu. Hidupku terasa jauh lebih baik rasanya. Hm… hidup memang bukan untuk diriku sendiri ya? Ayo bangkit Uliph. Pandang dunia ini lebih luas seperti layaknya memandang hamparan biru langit di angkasa. I think I really need Christ now.

Ps. Anak-anak itu komentar kalau kukuku yang dicat itam ini kelihatan seram n dekil. Yah… tapi aku belum beli Aseton, gimana donk??

Gambar yg ga banget!.JPG

Saturday, September 20, 2008 21:05


Recent Comment